AALI
9450
ABBA
278
ABDA
6050
ABMM
2490
ACES
720
ACST
174
ACST-R
0
ADES
6125
ADHI
755
ADMF
8150
ADMG
174
ADRO
3150
AGAR
312
AGII
2340
AGRO
840
AGRO-R
0
AGRS
116
AHAP
95
AIMS
252
AIMS-W
0
AISA
152
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1530
AKRA
1215
AKSI
268
ALDO
750
ALKA
288
ALMI
298
ALTO
193
Market Watch
Last updated : 2022/08/11 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
542.41
1.11%
+5.93
IHSG
7160.39
1.05%
+74.15
LQ45
1018.33
1.04%
+10.53
HSI
20082.43
2.41%
+471.59
N225
0.00
-100%
-27999.96
NYSE
0.00
-100%
-15264.79
Kurs
HKD/IDR 160
USD/IDR 14,765
Emas
848,754 / gram

Bos BI Prediksikan Rupiah Bisa Capai Rp14.700 per USD Tahun Ini

BANKING
Michelle Natalia
Jum'at, 01 Juli 2022 15:18 WIB
Perry Warjiyo memproyeksikan nilai tukar rupiah hingga akhir tahun 2022 secara rata-rata akan berada di rentang level Rp14.300-14.700 per USD.
Bos BI Prediksikan Rupiah Bisa Capai Rp14.700 per USD Tahun Ini
Bos BI Prediksikan Rupiah Bisa Capai Rp14.700 per USD Tahun Ini

IDXChannel - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memproyeksikan nilai tukar rupiah hingga akhir tahun 2022 secara rata-rata akan berada di rentang level Rp14.300-14.700 per dolar Amerika Serikat (USD).

"Nilai tukar rupiah di 2022 diprediksi akan mendekati kisaran Rp14.300-Rp14.700 per USD," ujar Perry dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR RI dan Menteri Keuangan di Jakarta, Jumat (1/7/2022).

Proyeksi ini ditopang adanya defisit transaksi berjalan yang rendah dan cadangan devisa yang mencukupi serta langkah kebijakan stabilitasi nilai tukar rupiah, baik di pasar spot, SBN maupun DNDF.

"Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada 2022 akan tetap terjaga dengan defisit transaksi berjalan yang tetap rendah dalam kisaran 0,5-1,3% dari PDB terutama ditopang oleh harga komoditas global yang tetap tinggi," ungkap Perry.

Untuk mata uang Rupiah selama semester I 2022, hingga tanggal 30 Juni, secara point-to-point mengalami depresiasi sekitar 4,33% (ytd) dibandingkan dengan level akhir 2021, relatif lebih rendah dari sejumlah negara lain, seperti Thailand 5,39%, Malaysia 5,52%,dan India 5,85%.

"Depresiasi tersebut sejalan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global akibat pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif di berbagai negara untuk merespons peningkatan tekanan inflasi dan kekhawatiran perlambatan ekonomi global," ungkap Perry.

Di sisi lain, Perry menekankan bahwa pasokan valas domestik tetap terjaga dan persepsi terhadap prospek perekonomian Indonesia tetap positif.

"Kedepan, Bank Indonesia terus mencermati perkembangan pasokan valas dan memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai dengan bekerjanya mekanisme pasar dan nilai fundamentalnya untuk mendukung upaya pengendalian inflasi dan stabilitas makro ekonomi," pungkasnya.

(NDA) 

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD