AALI
9650
ABBA
222
ABDA
5500
ABMM
2140
ACES
775
ACST
160
ACST-R
0
ADES
6225
ADHI
755
ADMF
8000
ADMG
170
ADRO
2720
AGAR
316
AGII
2000
AGRO
660
AGRO-R
0
AGRS
120
AHAP
55
AIMS
256
AIMS-W
0
AISA
140
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1425
AKRA
960
AKSI
284
ALDO
820
ALKA
298
ALMI
290
ALTO
204
Market Watch
Last updated : 2022/07/01 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
519.46
-1.84%
-9.76
IHSG
6794.33
-1.7%
-117.25
LQ45
974.33
-1.78%
-17.61
HSI
0.00
-100%
-21996.89
N225
25935.62
-1.73%
-457.42
NYSE
0.00
-100%
-14599.59
Kurs
HKD/IDR 1,904
USD/IDR 14,960
Emas
863,215 / gram

Selain Stagflasi, Ini Tiga Ancaman Perekonomian Global Versi BI

BANKING
Taufan Sukma/IDX Channel
Kamis, 23 Juni 2022 15:25 WIB
BI rupanya tidak cukup yakin dengan tren pertumbuhan ekonomi global, sehingga merevisinya dari prediksi sebelumnya di level 3,4 persen menjadi hanya tiga persen
Selain Stagflasi, Ini Tiga Ancaman Perekonomian Global Versi BI (foto: MNC Media)
Selain Stagflasi, Ini Tiga Ancaman Perekonomian Global Versi BI (foto: MNC Media)

IDXChannel- Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan kebijakannya untuk menahan tingkat suku bunga acuan atau BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) di level 3,5 persen. Tak hanya itu, BI juga menahan suku bunga deposit facility sebesar 2,75 persen, serta suku unga lending facility sebesar 4,25 persen.

Langkah menahan suku bunga sengaja diambil lantaran BI masih meyakini bahwa tingkat inflasi domestik masih dalam kondisi aman terkendali, dengan perkiraan inflasi di kisaran 4,2 persen pada tahun ini. Dengan asumsi itu, pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan masih akan dipertahankan di level 4,5 persen hingga 5,3 persen secara tahunan, sesuai dengan perkiraan BI pada bulan lalu.

Namun demikian, BI rupanya tidak cukup yakin dengan tren pertumbuhan ekonomi global, sehingga merevisinya dari prediksi sebelumnya di level 3,4 persen menjadi hanya tiga persen saja.

"Ada tiga risiko utama yang akan mempengaruhi pemulihan ekonomi global hingga akhir tahun nanti, selain juga adanya risiko stagflasi, yaitu perlambatan pertumbuhan ekonomi namun disertai lonjakan inflasi," ujar Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam keterangan resminya, usai Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI), Kamis (23/6/2022).

Ketiga risiko tersebut, menurut Perry, yaitu terus berlanjutnya perang Rusia-Ukraina yang mengganggu pasokan energi dan pangan dunia. Kondisi ini membuat tren kenaikan harga sejumlah komoditas menjadi tak terelakkan lagi.

"Kondisi ini menimbulkan (risiko perlambatan ekonomi global) dari sisi pasokan, sehingga dari sisi harga terjadi risiko (kenaikan) yang lalu mendorong kenaikan inflasi di seluruh dunia," tutur Perry.

Sedangkan risiko kedua, disebut Perry yaitu kebijakan pengetatan moneter di Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara maju lainnya, yang memicu lonjakan inflasi di negara tersebut. Tak hanya negara-negara maju, ancaman lonjakan inflasi muncul bagi negara-negara dengan ruang fiskal yang terbatas, sehingga terjadi transmisi kenaikan harga komoditas global ke harga jual dalam negeri.

"Hal ini memicu penurunan daya beli dan melemahnya permintaan, sehingga juga menghambat pertumbuhan ekonomi," papar Perry.

Sedangkan risiko ketiga, lanjut Perry, adalah kondisi domestik China yang masih terus berjibaku dengan pandemi COVID-19. Kondisi ini diperparah dengan ambisi Pemerintah China untuk mengimplementasikan kebijakan zero COVID-19, sehingga memantik perlambatan pertumbuhan ekonomi di negara tersebut.

"Dengan adanya ketiag faktor tekanan ini, menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi global berisiko ke bawah, sehingga yang semula kami perkirakan masih bisa diharapkan mencapai 3,4 persen, dengan ketiga faktor itu, kami prediksi akan turun menjadi tiga persen di tahun ini," tegas Perry. (TSA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD