AALI
8400
ABBA
590
ABDA
0
ABMM
1200
ACES
1290
ACST
248
ACST-R
0
ADES
2800
ADHI
905
ADMF
7700
ADMG
216
ADRO
1500
AGAR
356
AGII
1395
AGRO
2570
AGRO-R
0
AGRS
228
AHAP
70
AIMS
336
AIMS-W
0
AISA
202
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
590
AKRA
4130
AKSI
414
ALDO
730
ALKA
254
ALMI
238
ALTO
324
Market Watch
Last updated : 2021/09/24 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
460.94
0.12%
+0.54
IHSG
6144.82
0.03%
+2.10
LQ45
866.25
0.09%
+0.74
HSI
24192.16
-1.3%
-318.82
N225
30248.82
2.06%
+609.42
NYSE
0.00
-100%
-16352.18
Kurs
HKD/IDR 1,828
USD/IDR 14,245
Emas
803,749 / gram

Transaksi Elektronik Perbankan Naik 41 Persen, Diprediksi Tembus Rp278 Triliun di 2021

BANKING
Iqbal Dwi Purnama
Rabu, 28 Juli 2021 14:16 WIB
Kebijakan PPKM membuat banyak masyarakat beralih menjual barangnya melalui e-commerce dan mendorong pertumbuhan perbankan digital. 
Transaksi Elektronik Perbankan Naik 41, Diprediksi Tembus Rp278 Triliun di 2021 (Dok.MNC Media)

IDXChannel - Pembatasan mobilitas masyarakat dengan kebijakan PPKM membuat banyak masyarakat beralih menjual barang dagangannya melalui e-commerce dan mendorong pertumbuhan perbankan digital. 

Sejak semester I 2021 transaksi uang elektronik melonjak 41,01 persen. Dimana angka tersebut diprediksi akan tumbuh hingga Rp278 triliun sampai akhir tahun.

Menurut Director of Consumer Business bank BRI, Handayani, sejak tiga bulan belakangan peralihan transaksi elektronik meningkat signifikan dibandingkan dengan jumlah transaksi 4 tahun sebelum pandemi.

"Jadi kalau kita lihat perubahan ini sangat signifikan sekali, termasuk tren transaksi, kalau kita lihat dari data dengan membandingkan 3 bulan terakhir dengan 2015 samapi 2019 sebelum adanya covid,  itu jumlahnya lebih banyak yang tiga bulan terakhir ini." Ujar Handayani dala acara Indonesia Industry Outlook 2021, yang dilakukan secara daring.

Menurut Handayani, meningkatnya transaksi elektronik ditengah pandemi disebabkan oleh kesadaran masyarakat yang seiiring meningkat tentang medium penularan virus covid 19 melalui uang kertas.

"Mulai takut  untuk memegang uang tunai karena dianggap sebagai alat tranfering virus covid 19. Sementara kalau bebasis server base yang ada di mobile, risiko penularan covid ini dapat dicontrol." Sambungnya

Senada dengan Handayani, Wakil Direktur Utama Bank Syariah Indonesia, Abdullah Firman Wibowo, juga menyoroti fenomena yang sama dengan menilai, setidaknya ada tiga faktor yang menyebabkan perubahan transaksi  kedepannya.

"Banyak faktor yang menyebabkan perubahan transaksi kedepan. Pertama, Perbankan mempunyai persaingan kepada fintech, yang menawarkan berbagai kemudahan untuk masyarkaat untuk melakukan transaksi." Ujar Abdullah Firman dalam acara yang sama.

Kemudian Firman melanjutkan, faktor kedua yang menyebabkan perubahan digital adalah dorongan milenial, dirinya melihat milenial ini sangat  dekat kehidupannya dengan transaksi-transaksi digital.

Ketiga, menurutnya seiring perkembangan perbankan juga akan meningkatkan pelayanan untuk lebih optimal melalui layanan berbasis digital.

"Dan kemudian didorong dengan adanya pandemi Covid ini, tentunya itu merubah bagaimana model bisnis kita, strategi bisnis kita, termasuk pengembangan variasi produk, berbasis syariah," tuturnya. 

(IND) 

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD