AALI
9275
ABBA
280
ABDA
0
ABMM
2410
ACES
720
ACST
192
ACST-R
0
ADES
6225
ADHI
815
ADMF
8200
ADMG
177
ADRO
3250
AGAR
310
AGII
2220
AGRO
750
AGRO-R
0
AGRS
113
AHAP
99
AIMS
252
AIMS-W
0
AISA
154
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1545
AKRA
1160
AKSI
272
ALDO
745
ALKA
296
ALMI
308
ALTO
193
Market Watch
Last updated : 2022/08/18 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
546.99
1.02%
+5.51
IHSG
7186.56
0.74%
+53.11
LQ45
1026.34
0.98%
+9.98
HSI
19730.90
-0.96%
-191.55
N225
28942.14
-0.96%
-280.63
NYSE
15734.11
-0.71%
-112.68
Kurs
HKD/IDR 1,889
USD/IDR 14,765
Emas
836,469 / gram

Ada Keunikan Geografi, Saatnya Indonesia Punya Desain Baru Transformasi Ekonomi

ECONOMICS
Iqbal Dwi Purnama
Jum'at, 08 Oktober 2021 14:46 WIB
Kini sudah saatnya Indonesia membuat desain baru transformasi ekonomi yang mendukung keunikan geografi.
Ada Keunikan Geografi, Saatnya Indonesia Punya Desain Baru Transformasi Ekonomi. (Foto: MNC Media)
Ada Keunikan Geografi, Saatnya Indonesia Punya Desain Baru Transformasi Ekonomi. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Kini sudah saatnya Indonesia membuat desain baru transformasi ekonomi yang mendukung keunikan geografi. Hal ini dikatakan langsung oleh ekonom senior, Faisal Basri, sebab tidak ada negara serupa yang memiliki letak geografis sekaligus jalur strategis perdagangan dunia.

Untuk itu, sambungnya, hal ini harus bisa dimanfaatkan oleh Indonesia untuk membangun ekonomi yang lebih baik. Pernyataan ini disampailannya pada Webinar Analisis Lingkungan Ekonomi dan Bisnis Terhadap Disrupsi di Sektor Transportasi, Jumat (8/10/2021).

“Sadarilah bahwa laut yang mempersatukan pulau-pulau kita itu, sehingga bisa mengintegrasikan perekonomian domestik, jadi yang dibutuhkan desain baru transformasi ekonomi berbasis keunikan kita ini," ujarnya.

Meski memiliki letak geografis yang strategis ini, laut Indonesia terbengkalai karena justru transportasi lautnya kian hari kian menurun. Sedangkan pada sektor transportasi udara Faisal mengatakan selama ini naik.

Pada 2010 komposisinya mencapai 15,69 persen namun turun pada 2019 menjadi 29.26 persen lalu kembali naik pada 2020 menjadi 15,21 persen. Selanjutnya pada 2021 sepanjang semester satu 2021 sudah mencapai 13 persen.

"Kita biasa udara. Laut terbengkalai. Udara angkut manusia dan laut angkut barang. Kita keteteran di barangnya, manusianya semakin mobile namun barangnya masih mahal kalau diangkut lewat laut," sambungnya.

Terlebih, Ekonom Senior itu menilai, sektor transportasi Indonesia menjadi penyumbang defisit neraca berjalan. Menurutnya, setiap tahun sektor defisit belasan miliar dolar.

"Sektor transportasi adalah penyumbang defisit current account yang sangat besar, setiap tahun kita itu defisit belasan miliar," pungkasnya. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD