AALI
9675
ABBA
290
ABDA
6325
ABMM
1385
ACES
1345
ACST
190
ACST-R
0
ADES
3570
ADHI
825
ADMF
7550
ADMG
193
ADRO
2220
AGAR
362
AGII
1445
AGRO
1445
AGRO-R
0
AGRS
172
AHAP
70
AIMS
398
AIMS-W
0
AISA
174
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1120
AKRA
810
AKSI
690
ALDO
1350
ALKA
334
ALMI
290
ALTO
248
Market Watch
Last updated : 2022/01/18 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
505.56
-0.34%
-1.74
IHSG
6614.06
-0.47%
-30.99
LQ45
944.82
-0.34%
-3.20
HSI
24112.78
-0.44%
-105.25
N225
28257.25
-0.27%
-76.27
NYSE
17219.06
-0.23%
-39.94
Kurs
HKD/IDR 1,837
USD/IDR 14,330
Emas
836,902 / gram

Kebanjiran SDM, Jawa Timur Bisa Penuhi Kebutuhan Perawat di Luar Pulau Jawa

ECONOMICS
Lukman Hakim
Senin, 29 November 2021 06:27 WIB
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengatakan provinsinya memiliki kelebihan jumlah tenaga kesehatan.
Kebanjiran SDM, Jawa Timur Bisa Penuhi Kebutuhan Perawat di Luar Pulau Jawa. (Foto: MNC Media)
Kebanjiran SDM, Jawa Timur Bisa Penuhi Kebutuhan Perawat di Luar Pulau Jawa. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengatakan provinsinya memiliki kelebihan jumlah tenaga kesehatan. Untuk itu, dia pun menawarkan dukungan dalam memenuhi jumlah perawat terhadap kawasan di luar Pulau Jawa.

"Melihat kondisi tersebut, saya melihat Jawa Timur sangat berpeluang untuk memberikan support terhadap kebutuhan perawat di luar Pulau Jawa," kata Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, Minggu (28/11/2021).

Berdasarkan Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Survei Ekonomi Nasional (Susenas) menyebutkan, per tahun 2019, di Pulau Jawa, rasio perawat dengan jumlah penduduk adalah 1:815, artinya 1 perawat melayani 815 orang.

Namun di luar pulau Jawa, rasio penduduk per 1 perawat masih rendah. Sementara Jawa Timur (Jatim), berdasarkan data dari laman bppsdmk.kemkes.go.id, memiliki sebanyak 51.709 orang perawat.

Orang nomor satu di Jatim itu menambahkan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyampaikan kebutuhan perawat di Indonesia mencapai 6 juta orang. Dengan kemampuan provinsi paling timur Pulau Jawa ini dalam menghasilkan SDM keperawatan, dia yakin bisa memenuhi kebutuhan tersebut.

"Nah Provinsi Jatim ini sangat berpotensi menghasilkan  perawat yang bisa mengisi kebutuhan di luar Jawa bahkan di luar negeri," jelas gubernur perempuan pertama di Jatim ini. 

Di sisi laim, Khofifah juga mengingatkan, saat ini, transformasi digital merupakan sebuah keniscayaan. Layanan kesehatan akan banyak menggunakan alat kesehatan berbasis hi-tech. Sehingga penting bagi para perawat untuk selalu update teknologi dalam memberikan layanannya.

Artinya, para perawat perlu melakukan intensitas terhadap pengenalan alkes berbasis hi-tech. Selain spesific skill keperawatan, para perawat harus paham teknologi juga. Apalagi, sekarang ini banyak peralatan kesehatan canggih, dibutuhkan mental yang canggih dan cekatan pula, ajak Khofifah.

Menurut Khofifah, penggunaan teknologi itu tidak hanya ketika para perawat memberikan layanan kesehatan, tetapi juga menyampaikan laporan (report) termasuk medical report. "Akses aplikasi saat ini luar biasa. Data bisa ter-capture real time dan presisi. Percepatan dengan teknologi digital. Bukan hanya layanan kesehatan, tetapi report seperti medical report," tandasnya. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD