AALI
9725
ABBA
224
ABDA
0
ABMM
780
ACES
1480
ACST
280
ACST-R
0
ADES
1665
ADHI
1165
ADMF
8075
ADMG
167
ADRO
1185
AGAR
428
AGII
1095
AGRO
910
AGRO-R
0
AGRS
570
AHAP
71
AIMS
494
AIMS-W
0
AISA
274
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
585
AKRA
3240
AKSI
785
ALDO
870
ALKA
242
ALMI
236
ALTO
318
Market Watch
Last updated : 2021/05/07 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
468.07
-0.98%
-4.61
IHSG
5928.31
-0.7%
-41.93
LQ45
880.72
-0.93%
-8.22
HSI
28610.65
-0.09%
-26.81
N225
29357.82
0.09%
+26.45
NYSE
0.00
-100%
-16348.41
Kurs
HKD/IDR 1,838
USD/IDR 14,290
Emas
835,733 / gram

Miris! Utang BUMN Tembus Rp1.682 Triliun

ECONOMICS
Suparjo Ramalan/Sindonews
Kamis, 28 Januari 2021 15:45 WIB
 Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mencatat, hingga September 2020 utang perseroan negara mencapai Rp1.682 triliun.
Miris! Utang BUMN Tembus Rp1.682 Triliun

IDXChannel -  Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mencatat, hingga September 2020 utang perseroan negara mencapai Rp1.682 triliun. Utang tersebut didominasi oleh pinjaman pembiayaan pembangunan infrastruktur. 

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo atau Toko mengatakan, kondisi pandemi Covid-19 menyebabkan kesulitan keuangan BUMN. Sementara di sisi lainnya, konstruksi sejumlah infrastruktur harus terus dijalankan sehingga itu yang membuat utang BUMN meningkat. 

"Memang kami sangat diharapkan membangun infrastruktur dasar seperti tol, bandara, pelabuhan membuat secara posisi utang BUMN meningkat mencapai Rp1.682 triliun di bulan sembilan 2020," ujarnya dalam BRI Group Economic Forum 2021, di Jakarta Kamis (28/1/2021).

Menurut Tiko, utang BUMN tidak saja terjadi pada 2020 saja. Jika dibandingkan tahun sebelumnya, kenaikan utang 2020 relatif lebih tinggi. Bahkan utang BUMN sudah terjadi sejak 5 tahun terakhir. 

Dalam catatan Kementerian BUMN, sejak 2017 utang BUMN mencapai Rp942,9 triliun. Sementara pada 2018 meningkat menjadi Rp 1.251,7 triliun dan di tahun 2019 utang perseroan meningkat menjadi Rp1.393 triliun. Dan pada 2020 mencapai Rp1.682 triliun.

"Covid memang secara signifikan memengaruhi seluruh perusahaan tak kecuali BUMN, pertumbuhan utang BUMN selama 5 tahun terakhir," kata Tiko. 

Dari segi pendapatan (growth revenue), BUMN sektor energi yang paling terdampak pandemi. Itu karena konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan listrik selama 9 bulan lalu menurun drastis. 

"Dan kalau kita lihat growth revenue di mana yang paling berdampak sektor energi, di mana konsumsi dari pada BBM dan listrik selama 9 bulan lalu karena Covid-19 ini membuat demand dan pembelian energi menurun drastis," ungkap dia. 

Sementara revenue BUMN karya juga mengalami perlambatan sebab terjadinya perlambatan pembangunan infrastruktur fisik. Hal itu membuat pendapatan perusahaan-perusahaan karya menurun. "Dan pada sektor tourism pendukung termasuk airport. Garuda, hotel ITDC yang terdampak signifikan pandemi Covid-19," imbuh Tiko

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD