AALI
8400
ABBA
590
ABDA
0
ABMM
1200
ACES
1290
ACST
248
ACST-R
0
ADES
2800
ADHI
905
ADMF
7700
ADMG
216
ADRO
1500
AGAR
356
AGII
1395
AGRO
2570
AGRO-R
0
AGRS
228
AHAP
70
AIMS
336
AIMS-W
0
AISA
202
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
590
AKRA
4130
AKSI
414
ALDO
730
ALKA
254
ALMI
238
ALTO
324
Market Watch
Last updated : 2021/09/24 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
460.94
0.12%
+0.54
IHSG
6144.82
0.03%
+2.10
LQ45
866.25
0.09%
+0.74
HSI
24192.16
-1.3%
-318.82
N225
30248.82
2.06%
+609.42
NYSE
0.00
-100%
-16352.18
Kurs
HKD/IDR 1,828
USD/IDR 14,245
Emas
803,749 / gram

Demi Gaji Karyawan, Pengusaha Ini Rela Jual Burung Kesayangan Rp2 Miliar

INSPIRATOR
Adi Haryanto
Selasa, 27 Juli 2021 20:44 WIB
Seorang pengusaha harus merelakan menjual 12 ekor burung macawnya demi menutupi biaya operasional dan gaji karyawannya.
Foto: Instagram/@officialgrafika

IDXChannel - Eko Suprianto, pengusaha sekaligus pemilik objek wisata Terminal Wisata Grafika Cikole (TWGC) Lembang, Kabupaten Bandung Barat, harus merelakan menjual 12 ekor burung macawnya demi menutupi biaya operasional dan gaji karyawannya.

"Burung-burung (Macaw) sudah dijual, totalnya ada sekitar 12 ekor. Itu untuk menutupi biaya operasional perusahaan," kata dia mengawali cerita, Selasa (27/7/2021).

Harga jual ke-12 ekor burung Macaw itu lanjut Eko, mencapai Rp2 miliar dengan harga terendah Rp30 juta dan banderol tertinggi Rp200 juta. Akan tetapi ada pula burung yang diberikan ke kolega dan temannya untuk dialihrawatkan. Sedangkan yang tersisa kini hanyalah Jalak Bali dan Rusa.

Hal tersebut harus dilakukan karena turunnya pengunjung akibat pandemi covid-19 yang tidak kunjung berakhir dan ditambah pemberlakuan PPKM Darurat.

"Semoga kondisi cepat pulih, Covid-19 hilang jadi wisata kembali normal. Karena kalau terus begini sulit bagi pelaku usaha wisata untuk bertahan," tuturnya.

Dia juga sudah mengurangi karyawan untuk dirumahkan sementara dari asalnya sekitar 200-300 orang, kini tinggal di kisaran 100 orang. Sebab, tidak kuat untuk membayar gaji karyawan yang totalnya mencapai lebih dari Rp500 juta per bulannya.

Eko melanjutkan, pembayaran pajak ke Pemda KBB juga harus ditangguhkan sementara. Hal itu terjadi sejak Desember 2020 hingga Mei 2021. Surat resmi telah dilayangkan ke Pemda KBB untuk menunda pembayaran pajak. Namun hal itu kembali akan dibayar ketika objek wisatanya kembali beroperasi.

"Pajak daerah dari Desember, Januari sampai Mei belum dibayar. Yang Juni saya bayar, tapi dikenai denda. Soalnya lagi susah, pajak yang dibayar kan dari pemasukan konsumen atau pengunjung, kalau usahanya tutup ya gimana," jelas Eko.  (RAMA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD