Angka Impor Baja Masih Tinggi, Krakatau Steel Dicurangi?
Market News
Fahmi Abidin
Selasa, 16 Juli 2019 11:15 WIB
Direktur Utama KS Silmy Karim berujar, dirinya percaya baja nasional mampu bersaing baik dari harga maupun kualitas, dengan baja impor China.
Angka Impor Baja Masih Tinggi, Krakatau Steel Dicurangi?

IDXChannel - Sorotan publik terhadap PT Krakatau Steel Tbk (KS) yang tengah berjuang lepas dari kerugian menahun masih belum surut. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), arus impor baja ke Indonesia memang cukup deras mencapai USD 213 juta per Juni 2019.

Direktur Utama KS Silmy Karim berujar, dirinya percaya baja nasional mampu bersaing baik dari harga maupun kualitas, dengan baja impor China. Namun ia juga menekankan, KS tak akan takut bersaing selama tidak ada kecurangan.

Menurutnya, kecurangan tersebut disebabkan baja impor kerap tidak membayar bea masuk. Ditambah adanya praktik dumping dan Pemerintah China yang memberikan pemotongan pajak (tax rebate) untuk perusahaan-perusahaan China mengekspor bajanya ke luar negeri. Sehingga menjejali pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Belum lagi Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 22 Tahun 2018 tentang Ketentuan Impor Besi dan Baja yang mempermudah masuknya baja asing. Bahkan pengamat ekonomi menilai, regulasi yang tidak ketat ini memang jadi faktor utama KS kalah bersaing.

"Impor baja ini komoditi impor ketiga terbesar di Indonesia. Jadi ikut menekan neraca perdagangan Indonesia, kasihan dong rupiah. Jadi harus dibenahi bersama-sama. Pemerintah membenahi dengan kebijakan, saya di Krakatau Steel membenahi dari sisi mikro," tutur Silmy di Gedung KS, Jakarta (15/7).

Hasil riset BPS tahun lalu mencatat jumlah impor baja dan besi mencapai 5,45% dari total importasi dengan nilai USD 10,25 miliar. Sedangkan The South East Asia Iron and Steel Institute menyebut pada 2018, impor baja di Indonesia mencapai 7,6 juta ton.

Berkaca dari angka-angka tersebut, rasanya tak ada pilihan lain bagi Silmy selain melakukan efisiensi SDM dan restrukturisasi. Hal ini dilakukan semata-mata untuk menyelamatkan perusahaan baja nasional ini dari kerugian yang semakin berkepanjangan.

"Saya sudah menyiapkan restrukturisasi utang, bisnis, dan organisasi meski hal ini tidak menyenangkan semua pihak. Untuk restrukturisasi bisnis, termasuk melakukan divestasi dan sekuritisasi aset non-core, dengan target USD1 miliar," jelasnya. (*)

Baca Juga