AALI
9825
ABBA
234
ABDA
0
ABMM
755
ACES
1470
ACST
284
ACST-R
0
ADES
1695
ADHI
1170
ADMF
8100
ADMG
173
ADRO
1200
AGAR
444
AGII
1115
AGRO
935
AGRO-R
0
AGRS
456
AHAP
71
AIMS
505
AIMS-W
0
AISA
280
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
580
AKRA
3340
AKSI
750
ALDO
885
ALKA
250
ALMI
238
ALTO
300
Market Watch
Last updated : 2021/05/06 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
472.68
-0.2%
-0.96
IHSG
5964.35
-0.19%
-11.56
LQ45
888.94
-0.17%
-1.48
HSI
28466.18
0.17%
+48.18
N225
29345.90
1.85%
+533.27
NYSE
16348.41
0.36%
+59.14
Kurs
HKD/IDR 1,847
USD/IDR 14,370
Emas
826,080 / gram

AS-China Saling Sikut, Australia Paling Diuntungkan dari Sisi Ekspor

MARKET NEWS
Shifa Nurhaliza
Selasa, 28 Juli 2020 11:45 WIB
Imbas perseteruan antara Washington dan Beijing memicu efek domino di sektor perdagangan kedua negara.
AS-China Saling Sikut, Australia Paling Diuntungkan dari Sisi Ekspor. (Foto: Ist)

IDXChannel – Imbas perseteruan antara Washington dan Beijing memicu efek domino di sektor perdagangan kedua negara. Tercatat nilai barang-barang yang diekspor dari Amerika Serikat (AS) di 2019 menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan ekonomi AS turun hampir di semua peringkat global.

Terungkap bahwa turunnya nilai barang eskpor juga merupakan dampak dari perang dagang keliru oleh Presiden AS Donald Trump yang dimulai sejak 2018. Menariknya, perseteruan antara AS dan China ini justru menguntungkan Australia.

“Kami sekarang memiliki angka perdagangan akhir untuk 2019 dari agen PBB, Comtrade, untuk sebagian besar negara maju. Ini menunjukkan total ekspor dari AS benar-benar turun sepanjang 2019 dan di atas 2018 sebesar UD21 miliar (AU $ 29,6 miliar) atau 1,26%. Ekspor Australia meningkat sebesar US $ 13,6 miliar (A $ 19,1 miliar) atau 5,39%,” dilansir dari Hellenic Shipping News, Selasa (28/7/2020).

Presentase tersebut merupakan fakta yang sangat kuat bagi Australia yang terjadi karena beberapa alasan. Pertama, sebagian besar negara di dunia mengalami kesulitan untuk meningkatkan ekspor di 2019. Dari 40 ekonomi utama yang dikembangkan OECD dan G20, nyatanya hanya 11 negara yang berhasil melakukan perbaikan pada 2018.

“Ini adalah tahun keempat berturut-turut peningkatan ekspor Australia. Tahun sebelumnya, 2018, melihat kenaikan kredit sebesar 9,81%. Itu diikuti 2017 yang menghasilkan kenaikan 21,4% luar biasa. Jadi peningkatan ekspor Australia dari 2016 hingga 2019 adalah 40,5% yang mengesankan. Dan merupakan hasil terbaik di negara maju, jauh di depan Yunani dan Slovenia di tempat kedua dan ketiga, dan jalan-jalan di depan yang lain. Pertumbuhan tiga tahun 40,5% lebih dari dua kali lipat rata-rata 18,2,” tulis laporan yang sama.

Berdasarkan data Comtrade yang menunjukkan rincian impor dan ekspor antar semua negara selama bertahun-tahun. Seperti yang diharapkan selama perang perdagangan ala Trump, Cina telah mengurangi impor dari AS secara dramatis. Pada 2019, nilai impor sebenarnya jatuh lebih dalam dibandingkan pada 2016. Hal tersebut terjadi pada delapan dari 42 mitra dagang utama China dan sebagian besar dari mereka bukan pemasok utama seperti Amerika Serikat.

“Sebaliknya, impor China dari Australia meningkat 28,7% selama tiga tahun tersebut. Peningkatan rata-rata selama tiga tahun untuk semua 42 negara sumber untuk impor Tiongkok adalah 19,6%,” kutip Hellenic Shipping News.

Akibat mewabahnya Covid-19, hal tersebut membuat nilai eskpor AS terjun lebih dalam di luar kendali. Pada Maret, ekspor turun 10,8% dari Maret 2019. Sedangkan pada April, AS turun 27,8% dari April sebelumnya. Dan pada Mei, ekspor turun 32,1% dari Mei sebelumnya untuk mencapai level bulanan terendah sejak November 2009.

Dengan demikian, perang dagang Trump bersamaan dengan mewabahnya covid-19 kini telah memusnahkan semua pertumbuhan ekspor sejak Krisis Keuangan Global 11 tahun yang lalu. (*)

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD