Disebut Utang Bertambah, Bos WIKA: Kalau Tak Naik, Tak Usah Kerja
Market News
Fahmi Abidin
Kamis, 08 Agustus 2019 10:45 WIB
Direktur Utama PT Wijaya Karya (Wika) Tumiyana mengatakan, utang yang terus bertambah merupakan salah satu bukti perusahaan itu sedang tumbuh.
Disebut Utang Bertambah, Bos WIKA: Kalau Tak Naik, Tak Usah Kerja. (Foto: Ist)

IDXChannel – Terkait dengan kabar membengkaknya utang perusahaan – perusahaan BUMN, salah satunya dipicu pembangunan infrastruktur yang masif. Direktur Utama PT Wijaya Karya (Wika) Tumiyana mengatakan, utang yang terus bertambah merupakan salah satu bukti perusahaan itu sedang tumbuh.

Ditambahkan Tumiyana, karena dengan utang artinya perusahaan tersebut masih produktif karena banyak pekerjaan yang digarap. “Kalau enggak naik (utangnya) enggak usah kerja, mending di rumah tidur. Selama itu tumbuh dan kaidah keuangan dipenuhi,” katanya di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu (6/8).

Tidak masalah sebuah perusahaan untuk berutang, ungkap Tumiyana, apalagi utang yang ditarik untuk sektor produktif yakni pembangunan infrastruktur.

Menurut Tumiyana, nantinya perseroan akan mendapatkan ritern dari infrastruktur yang dibangun tersebut. Sebagai contoh membangun jalan tol, meskipun harus berutang nantinya perusahaan akan mendapatkan untung dari pengoperasian jalan tol tersebut.

Lagi pula, dalam berutang perseroan akan tetap memperhatikan rasionya. Jika dianggap berbahaya maka perseroan tidak akan mengambil utang.

“Jadi kalau ada orang ngomong perusahaan konstruksi kebanyakan utang itu saya luruskan. Namanya perusahaan tumbuh itu debt. Tapi rasionya terkontrol enggak,” jelasnya.

Sebagai informasi, WIKA sendiri mampu mencatatkan laba bersih sebesar Rp 1,01 triliun pada semester I 2019. Angka tersebut tumbuh 60,48% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu yang hanya Rp 632,52 miliar.

Pada semester I 2019, pihaknya memperoleh kontrak baru sebesar Rp 15,23 triliun. Segmen infrastruktur dan gedung berkontribusi sebesar 39,27%, segmen energi dan industrial plant sebesar 39%, segmen industri sebesar 17,6%, dan segmen properti sebesar 4,12%. (*)

Baca Juga