"Namun demikian, kenaikan lebih lanjut tertahan oleh penguatan ringgit terhadap dolar AS. Ekspor minyak sawit diperkirakan akan berakhir lebih rendah bulan ini," ujarnya kepada Bernama, Kamis (29/8).
Di sisi lain, mengutip Trading Economics, Kamis (29/8), cuaca kering dan pohon sawit yang menua di produsen utama Indonesia menimbulkan kekhawatiran mengenai penurunan panen dalam waktu dekat.
Secara bersamaan, presiden terpilih Indonesia, Prabowo Subianto, menyebut aturan deforestasi Uni Eropa, yang berpotensi mengurangi impor minyak sawit Indonesia, sebagai berkah tersembunyi.
Ke depan, Indonesia akan memanfaatkan lebih banyak produksi minyak sawit untuk meningkatkan campuran biodiesel. Hal tersebut seiring Prabowo berharap meluncurkan kebijakan wajib pencampuran minyak sawit 50 persen ke dalam solar alias biodiesel (B50) tahun depan.
Di India, sebagai importir minyak sawit terbesar di dunia, permintaan yang kuat diperkirakan akan berlanjut untuk beberapa bulan mendatang, karena negara tersebut bersiap menghadapi musim perayaan antara September hingga November.