Senior Analis Fastmarket Palm Oil Analytics Sathia Varqa menambahkan, pada Kamis (7/11), futures CPO menguat akibat kombinasi antara aksi ambil untung dan momentum pembelian.
Menurutnya, proyeksi produksi yang lebih rendah, performa lebih tinggi dari minyak nabati terkait, serta perkiraan peningkatan permintaan minyak sawit di segmen biodiesel mendukung pasar, dengan beberapa aktivitas ambil untung yang sporadis.
"Data dari Malaysian Palm Oil Association (MPOA) yang dirilis setelah sesi tengah hari menunjukkan bahwa produksi Oktober tetap tidak berubah dari September, dengan penurunan besar dalam produksi di Semenanjung Malaysia yang menutupi pertumbuhan dari negara bagian Sabah," ujarnya.
Di sisi lain, Kepala Riset Komoditas Sunvin Group di Mumbai Anilkumar Bagani mengungkapkan, harga CPO telah melampaui MYR5.000 per ton untuk pertama kalinya sejak Juni 2022. (Aldo Fernando)