Ini Strategi Industri Keuangan Syariah Indonesia Hadapi Ancaman Resesi Global
Market News
Fahmi Abidin
Jumat, 18 Oktober 2019 14:45 WIB
Sektor perbankan syariah masih bisa berkembang di Indonesia dan berencana memanfaatkan sektor konsumsi dari produk syariah
Ini Strategi Industri Keuangan Syariah Indonesia Hadapi Ancaman Resesi Global. (Foto: Ist)

IDXChannel – Pelambatan ekonomi global saat ini memberi kekhawatiran akan menyebabkan resesi. Ancaman itu tentu akan memengaruhi seluruh sektor bisnis, termasuk industri keuangan syariah.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional sekaligus Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro, menjelaskan bahwa sektor perbankan syariah masih bisa berkembang di Indonesia dan berencana memanfaatkan sektor konsumsi dari produk syariah, karena industri halal belum berkembang signifikan meski populasi muslim di Indonesia besar.

“Kami masih melihat konsumsi rumah tangga 5%, tentunya ini menjadi potensi pasar yang lebih besar,” kata Bambang di Jakarta, Kamis (17/10).

Melirik dari jumlah penduduk dengan tingkat ekonomi menengah yang mencapai 50 – 60 juta. Angka tersebut menunjukkan bahwa produk syariah masih memiliki potensi pasar besar. Selain itu, pemerintah juga mendorong e-commerce industri halal untuk membentuk industri kecil berbasis syariah dari Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Saat ini banyak negara di dunia tertarik dengan perekonomian industri syariah. Hal itu didukung dengan populasi muslim di dunia yang meningkat. Dengan bertambahnya populasi muslim ekonomi syariah dapat menjadi arus baru dalam perekonomian global yang mampu menjadi katalis terhadap pertumbuhan ekonomi global.

Sementara itu, jumlah muslim di dunia pada 2030 diprediksi akan melebihi seperempat dari populasi global. Seiring dengan bertambahnya populasi muslim, diprediksi pada 2023 ekonomi syariah mencapai USD3 triliun atau setara Rp 42.425 triliun dan aset keuangan sebesar USD3,8 triliun atau sekitar Rp 53.738 triliun. (*)

Baca Juga