AALI
8450
ABBA
222
ABDA
6050
ABMM
4280
ACES
620
ACST
187
ACST-R
0
ADES
7175
ADHI
740
ADMF
8300
ADMG
168
ADRO
4120
AGAR
294
AGII
2220
AGRO
605
AGRO-R
0
AGRS
95
AHAP
103
AIMS
240
AIMS-W
0
AISA
176
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1595
AKRA
1415
AKSI
320
ALDO
670
ALKA
288
ALMI
378
ALTO
171
Market Watch
Last updated : 2022/10/06 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
535.56
0.19%
+1.02
IHSG
7087.21
0.17%
+11.83
LQ45
1012.90
0.13%
+1.27
HSI
18031.15
-0.31%
-56.82
N225
27311.30
0.7%
+190.77
NYSE
14262.03
-0.4%
-57.47
Kurs
HKD/IDR 1,934
USD/IDR 15,192
Emas
842,074 / gram

Interview with CEO: Menguji Kekuatan Fundamental Indonesia di Tengah Volatilitas Perekonomian Global

MARKET NEWS
Taufan Sukma/IDX Channel
Senin, 08 Agustus 2022 07:16 WIB
Alih-alih saling bekerjasama mengubah kondisi pandemi menjadi endemi, kini publik internasional justru kembali dihantam masalah baru soal perang yang berkecamuk
Interview with CEO: Menguji Kekuatan Fundamental Indonesia di Tengah Volatilitas Perekonomian Global (foto: MNC Media)
Interview with CEO: Menguji Kekuatan Fundamental Indonesia di Tengah Volatilitas Perekonomian Global (foto: MNC Media)

IDXChannel – Dua tahun lebih seluruh perhatian masyarakat dunia telah tertambat pada kondisi pandemi COVID-19 yang melanda secara global. Namun, ketika setuasi kini secara perlahan mulai pulih dan membaik, permasalahan rupanya bukan berarti semakin berkurang.

Alih-alih saling berupaya dan bekerjasama mengubah kondisi pandemi menjadi endemi, kini publik internasional justru kembali dihantam masalah baru soal perang yang berkecamuk di Eropa Timur. Keputusan Rusia yang sejak 24 Februari 2022 lalu menginvasi Ukraina, apapun alasannya, telah terbukti mengubah peta pemulihan dunia dari kondisi COVID-19. Termasuk juga di Indonesia.

Pada tulisan sebelumnya, kami dari Tim Redaksi Idxchannel.com telah berbincang secara eksklusif bersama Direktur Utama BNP Paribas Asset Management, Priyo Santoso, tentang volatilitas perekonomian global dan poin-poin apa saja yang perlu menjadi perhatian bersama. Tulisan tersebut kami unggah dengan judul https://www.idxchannel.com/market-news/interview-with-ceo-mencari-titik-ekuilibrium-rantai-pasok-dunia-dari-konflik-rusia-ukraina.

Sedangkan pada tulisan kali ini, kami akan lebih membahas tentang dampak kondisi global tersebut terhadap perekonomian domestik Indonesia. Perbincangan kami lakukan di Kantor BNP Paribas Asset Management, di Bilangan Sudirman, Jakarta Selatan, Kamis (28/7/2022). Berikut ini sebagian hal penting yang dibahas dalam perbincangan tersebut.

Q: Sebelumnya kita telah banyak membahas tentang kondisi perekonomian global, mulai dari terganggunya rantai pasok dunia akibat Perang Rusia-Ukraina, tekanan inflasi hingga ancaman resesi global. Lalu dengan kondisi internasional yang demikian complicated, seperti apa dan seberapa besar pengaruhnya terhadap perekonomian Indonesia?

A: Untuk kondisi domestik, Saya yakin dengan apa yang telah disampaikan pemerintah, melalui Menteri Keuangan Ibu Sri Mulyani, lalu Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Bapak Airlangga Hartarto, dan juga yang lain, bahwa pengaruh dari kondisi di luar (negeri) tentunya ada dan nyata, hanya saja secara fundamental perekonomian kita sangat kuat. Probabilitas terkait ancaman resesi di kita juga masih sangat rendah dibanding negara-negara Eropa. Walaupun mungkin sebagian pihak cukup meragukan klaim itu. Tidak masalah juga.

Tapi cara melihatnya, bahwa klaim pemerintah itu tidak sekadar bluffing atau retorika, menurut Saya cukup mudah. Bahwa kondisi Indonesia saat ini sebetulnya sangat diuntungkan dengan harga komoditas yang melonjak cukup tinggi. Dari sana Indonesia mendapatkan windfall profit yang juga lumayan membantu secara fiskal, sehingga ada ruang yang cukup bagi pemerintah dalam mengendalikan atau mempertahankan stabilitas harga-harga barang yang berpotensi melonjak seiring terganggunya pasokan. Jadi sebetulnya di satu sisi, meski di tengah banyak tekanan, kondisi ini bisa membuat ekonomi Indonesia jauh lebih stabil.

Q: Apakah keyakinan ini yang menjadi dasar Bank Indonesia (BI) sehingga cukup percaya diri bahwa suku bunga acuan belum perlu dinaikkan? Apakah menurut BNP Paribas Asset Management sendiri, kebijakan mempertahankan suku bunga ini sudah tepat? Ataukah seperti keinginan sejumlah pelaku pasar, bunga memang perlu dinaikkan?

A: Memang betul bahwa secara kebutuhan pasar, memang (suku bunga BI) sangat perlu untuk dinaikkan. Karena Saya kira concern seluruh bank sentral di dunia saat ini semuanya sama, yaitu bagaimana sebisa mungkin mengendalikan laju inflasi. Itu tantangan mereka semua saat ini. Dan Saya lebih cenderung menggunakan kata ‘mengendalikan’, bukan ‘menurunkan’, karena kalau inflasi terlalu turun juga tetap ada konsekuensi lanjutannya.

Nah, kebutuhan seluruh bank sentral dalam menaikkan bunga memang untuk itu, yaitu mengendalikan inflasi. Seperti yang dilakukan The Fed di AS, di mana tekanan inflasi di sana memang sudah sangat tinggi. Di Juni kemarin mencapai 9,2 persen, sehingga memang perlu sekali kenaikan suku bunga demi menjaga agar inflasi tidak naik lebih tinggi lagi, karena itu akan sangat berbahaya untuk ekonomi domestik mereka. Akan berpengaruh ke purchasing power mereka juga. Dengan menaikkan suku bunga, AS ingin menjaga agar secara demand tidak naik terlalu tinggi, sehingga keseimbangan antara supply dan demand dapat kembali terbentuk.

Kalau untuk Indonesia sendiri, Bank Indonesia telah memasang batas toleransi atas inflasi di level empat persen. Meski di kalangan ekonom melihat potensinya bisa lebih dari itu. Karena kita tahu, harga bahan pokok makanan, terutama yang sangat tergantung pada pasokan impor, seperti gandum, pasti akan tertekan naik juga. Sehingga menurut Saya, inflasi tetap akan terjadi, meski tidak akan setinggi yang terjadi di negara-negara Barat ataupun negara-negara tetangga kita di Asia Tenggara.

Jadi tetap akan ada kenaikan inflasi, tapi menurut kami masih akan bisa dipertahankan di bawah lima persen, karena seperti Saya bilang tadi, pemerintah memiliki kemampuan, memiliki amunisi dan ruang yang cukup secara fiskal untuk menahan (tren kenaikan) itu. Misalnya dari segi kebutuhan bahan bakar, lalu harga listrik dan juga gas. Saya yakin pemerintah bisa mengatasi tekanan di sektor itu.

Tapi pertanyaannya kemudian, apa yang perlu kita antisipasi selanjutnya, ketika proyeksi dinamika global ke depan harga komoditas bakal menurun. Karena hal itu akan juga berdampak terhadap permintaan bahan bakar secara global. Kita perlu segera siapkan apa yang perlu dilakukan pemerintah seandainya harga komoditas ini turun. Apa yang harus kita persiapkan dari sisi anggaran. Jadi ini yang mungkin perlu kita lihat atau cermati ke depan.

Q: Seperti yang Bapak sampaikan bahwa dengan mengandaikan kondisi di depan tidak selamanya bakal sesuai planning dan analisa yang kita susun, apakah kebijakan BI untuk mempertahankan suku bunga di tengah tekanan yang bahkan tidak hanya terjadi di Indonesia namun juga hampir seluruh dunia, apakah kebijakan itu tidak terlalu riskan untuk diambil? Bagaimana bila kondisi yang terjadi nantinya di luar perkiraan BI selama ini?

A: Memang kalau masyarakat awam mungkin melihat BI belum melakukan sesuatu, karena fokus yang dilihat memang lebih pada suku bunga acuan. Tidak salah juga, karena pada prinsipnya melawan kenaikan inflasi itu dengan menyerap likuiditas yang berlebih dari pasar. Kita kurangi likuiditas uang beredarnya. Nah di luar negeri biasanya memang menyerap likuiditas itu salah satunya dengan menaikkan tingkat suku bunga, atau menahan aksi intervensi pasar dengan membeli surat utang.

Tapi dengan belum menaikkan suku bunga, bukan berarti BI belum melakukan apa-apa. Sudah banyak upaya yang dilakukan BI untuk mengurangi likuiditas uang beredar yang ada di pasar. Mereka justru Saya lihat lebih intens melakukan operasi pasar, yaitu dengan menaikkan GWM (Giro Wajib Minimum-red). Itu di satu sisi. Di sisi lain, seperti yang juga telah dipaparkan oleh BI, mereka juga secara aktif melakukan penjualan obligasi yang mereka miliki ke pasar.

Inilah cara mereka menyerap likuiditas berlebih, sehingga meskipun seven days repo rate mungkin tetap berada di level 3,5 persen, belum ada perubahan, tapi dari sisi year curve-nya kalau dilihat sekarang Indonesia itu melakukan penjualan surat utang yang mereka miliki di kisaran tenor satu sampai lima tahun. Jadi nanti kalau dilihat year curve akan naik, dan itu jangka pendek. Di satu sisi suku bunga jangka pendeknya juga naik, meski mungkin (suku bunga) yang seven days repo-nya tidak naik.

Jadi memang ada banyak cara untuk dapat melawan kenaikan inflasi. Intinya adalah mengurangi likuiditas yang berlebih di pasar, tapi caranya bisa berbeda-beda. Banyak bank sentral lain mungkin memilih menaikkan suku bunga acuannya, sedangkan BI lebih pada operasi pasar yang dijalankan.

Q: Kenapa BI lebih memilih operasi pasar dengan menaikkan GWM dan menjual obligasi yang dimilikinya ke pasar ketimbang secara langsung menaikkan suku bunga acuan, dalam hal ini seven days repo rate? Adakah dampak yang sedang diantisipasi oleh BI, misal dampak psikologis di masyarakat atau dampak lanjutan (domino effect), yang mungkin akan terjadi bila sampai suku bunga benar-benar dinaikkan?

A: Memang pengamat, atau pelaku pasar di seluruh dunia kerap melihatnya secara pragmatis saja, bahwa ketika inflasi naik maka suku bunga acuan harusnya juga naik. Skema itu mungkin pas untuk negara-negara lain. Tapi untuk kasus Indonesia, karena likuiditasnya itu sangat banyak, dan kita juga masih masuk dalam siklus pemulihan ekonomi pasca pandemi COVID-19 sehingga kita ingin semua sektor ekonomi ini bergeliat bersama, maka dengan menaikkan suku bunga itu juga cukup dilematis dan kurang bijak karena akan berdampak kurang bagus pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Justru pemerintah dan Bank Indonesia kan inginnya memacu pemberian pinjaman ke sektor usaha, karena dengan kondisi pasca pandemi, masih ada sebagian pengusaha yang belum berani meminjam ke bank karena mau berbenah dulu di internal sebelum mereka kembali ekspansif. Dengan kenaikan suku bunga, sedangkan permintaan loan juga belum terlalu besar, maka justru bank yang akan kelebihan likuiditas.

Ini juga Saya pikir jadi pertimbangan lain di balik pilihan kebijakan BI saat ini yang masih terus mempertahankan suku bunga acuannya di level 3,5 persen. (TSA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD