IPO Aramco Terancam Ditunda, Pasca Penyerangan Drone ke Kilang Minyak
Market News
Fahmi Abidin
Selasa, 17 September 2019 10:15 WIB
Pasca penyerangan drone terhadap kilang minyak perusahaan, Pemerintah Arab Saudi dikabarkan mengkaji penundaan IPO (initial public offering) Saudi Aramco.
IPO Aramco Terancam Ditunda, Pasca Penyerangan Drone ke Kilang Minyak. (Foto: Ist)

IDXChannel – Pasca penyerangan drone terhadap kilang minyak perusahaan, Pemerintah Arab Saudi dikabarkan mengkaji penundaan IPO (initial public offering) Saudi Aramco.

Aramco sebelumnya berencana menjadi perusahaan publik pada November 2019 lewat skema dual-listing. IPO pertama akan dilakukan di Riyadh sebelum go-public di bursa luar Saudi satu tahun kemudian.

“Mereka sedang mengkaji dampak kerusakan. Ada kemungkinan (menunda), tapi masih terlalu dini (untuk memutuskan),” kata sumber AFP, Selasa (17/9).

Aksi korporasi Aramco tersebut diprediksi memecahkan IPO terbesar sepanjang masa. Hal ini mengingat valuasi perusahaan raksasa minyak tersebut mencapai USD1 triliun. Rencana IPO terus bergulir dalam beberapa minggu terakhir setelah menunjuk JPMorgan sebagai lead-arranger IPO. Selain itu, Goldman Sachs dan Bank of America juga akan terlibat dalam proses IPO.

Langkah IPO dilakukan Saudi sebagai bagian dari strategi untuk mendorong sumber pertumbuhan ekonomi baru di luar minyak.

Pemberontak Huthi yang dibekingi Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap fasilitas minyak Aramco. Kelompok ini tengah berperang dengan koalisi yang dipimpin Saudi.

Iran menepis tuduhan AS dan Saudi bahwa Tehran menjadi dalang di balik aksi serangan tersebut. Presiden AS Donald Trump sempat bereaksi keras dengan mengatakan, Amerika sudah "mengunci dan memenuhi senjata" sebelum akhirnya mendingin dengan mengatakan dirinya berharap konflik bisa dihindari.

Serangan tersebut mematikan produksi dua kilang milik Aramco dengan kapasitas 5,7 juta barel per hari. Jumlah tersebut setara dengan separuh total produksi minyak Saudi dan 5 persen pasokan global.

Belum jelas kapan produksi minyak Saudi akan kembali normal. Serangan tersebut membuat harga minyak mentah dunia melonjak. Pada sesi penutupan perdagangan Senin (16/9/2019), harga minyak Brent meroket 14,6 persen. Angka ini merupakan kenaikan tertinggi sepanjang masa dalam waktu satu hari. (*)

Baca Juga