Kisruh Biodiesel Berlanjut, Uni Eropa Kritik Kebijakan “Balas Dendam” Indonesia
Market News
Fahmi Abidin
Jumat, 06 September 2019 14:45 WIB
Lanjutan kisruh biodiesel, Uni Eropa kritik rencana Indonesia memberlakukan tarif tambahan untuk produk susu (dairy products) dari Benua Biru.
Kisruh Biodiesel Berlanjut, Uni Eropa Kritik Kebijakan “Balas Dendam” Indonesia. (Foto: Ist)

IDXChannel – Lanjutan kisruh biodiesel, Uni Eropa kritik rencana Indonesia memberlakukan tarif tambahan untuk produk susu (dairy products) dari Benua Biru. Rencana itu dinilai bertentangan dengan aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Indonesia berencana mengenakan tarif bea masuk anti subsidi (BMAS) sebagai aksi retaliasi atau balas dendam atas tindakan Uni Eropa menerapkan tarif jenis serupa sebesar 8-18 persen untuk biodiesel Indonesia.

“WTO tidak mengizinkan satu negara untuk mengenakan bea secara sepihak sebagai pembalasan atas tindakan negara lain. Posisi kami dalam retaliasi semacam ini adalah ilegal dalam istilah WTO dan tidak dapat diterima,” kata Head of the Economic and Trade Section Delegasi Uni Eropa untuk RI dan Brunei, Raffaele Quarto di Jakarta, Kamis (5/9).

Ditambahkan Quarto, tarif BMAS yang diterapkan atas biodiesel asal Indonesia sangat kecil. Apalagi bila dibandingkan AS yang menerapkan tarif BMAS 65 persen atas biodiesel Indonesia. Ia khawatir, impor tambahan Indonesia untuk produk susu dari Eropa mengganggu ekosistem bisnis, termasuk bagi importir dan produsen di Indonesia yang menggunakan produk susu dari Eropa.

“Sebenarnya ini memberikan kerugian bagi industri di Indonesia yang menggunakan produk susu dari UE,” imbuhnya seperti dikutip iNews pada Jumat (6/9).

Dikatakan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, pemerintah akan memberlakukan tarif BMAS untuk produk susu dari Uni Eropa. ia juga meminta importir untuk mengalihkan pembelian dari Eropa ke negara-negara lain seperti AS, Australia, dan Selandia Baru.

Enggar lantas mengakui tarif BMAS dikenakan sebagai aksi retaliasi atas biodiesel Indonesia. Dia menyebut, apa yang dirasakan peternak di Eropa bakal sama dengan petani Indonesia yang bergantung pada CPO. (*)

Baca Juga