Market Watch
Last updated : 0: WIB 07/02/2023

Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes

Major Indexes
  • IHSG
  • 6,879.72
  • -32.01
  • -0.46%
  • LQ45
  • 948.62
  • -4.18
  • -0.44%
  • IDX30
  • 493.22
  • -2.55
  • -0.51%
  • JII
  • 577.13
  • -1.80
  • -0.31%
  • HSI
  • 21,222.16
  • -438.31
  • -2.02%
  • NYSE
  • 15,895.36
  • -104.04
  • -0.65%
  • STI
  • 3,385.93
  • +1.64
  • +0.05%
Currencies
  • USD-IDR
  • 14,874
  • 0.00%
  • 0
  • HKD-IDR
  • 1,897
  • 0.00%
  • 0
Commodities
  • Emas
  • 893,473
  • +0.05%
  • +426
  • Minyak
  • 1,107,816
  • +0.50%
  • +5,503

Mengintip Peluang Saham Teknologi saat Window Dressing

Market news
Melati Kristina - Riset
06/12/2022 15:46 WIB
Menjelang window dressing, kinerja IHSG hingga LQ45 konsisten menghijau dalam 20 tahun belakangan.
Mengintip Peluang Saham Teknologi saat Window Dressing. (Foto: MNC Media)
Mengintip Peluang Saham Teknologi saat Window Dressing. (Foto: MNC Media)

IDXChannel – Saham LQ45 hingga IHSG memiliki kinerja yang konsisten menghijau dalam kurun 20 tahun belakangan pada masa window dressing. Lantas, bagaimana dengan prospek saham emiten tekno di periode ini?

Strategi window dressing pada umumnya digunakan manajer investasi dalam meningkatkan kinerja portofolio, yakni dengan masuk ke saham top holding dengan jumlah besar supaya harga sahamnya naik.

Dengan demikian, portofolio dari fund manager terlihat memiliki kinerja yang baik.

Strategi yang umumnya dilakukan di akhir tahun tersebut berhasil mengerek kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Desember dalam 20 tahun belakangan.

Melansir data Bursa Efek Indonesia (BEI), kinerja IHSG di bulan Desember selalu menghijau dalam kurun 20 tahun terakhir.

Adapun kinerja IHSG rata-rata di bulan Desember tumbuh sebesar 4,42 persen dalam 20 tahun belakangan.

Sedangkan kinerja IHSG terbaik dalam 20 tahun terakhir terjadi pada tahun 2003, yaitu mencapai 12,12 persen. Sementara kinerja IHSG yang terendah di tahun 2013, yakni menyentuh 0,42 persen.

Selain berhasil mengerek IHSG, kinerja indeks saham LQ45 di bulan Desember juga selalu menghijau dalam 20 tahun belakangan.

Informasi saja, indeks saham LQ45 terdiri dari 45 emiten dengan likuiditas tertinggi dan kapitalisasi pasar terbesar. Selain itu, terdapat saham blue chips pada indeks saham tersebut yang berperan sebagai penggerak IHSG.

Tercatat, dalam kurun 20 tahun belakangan, kinerja LQ45 di bulan Desember tertinggi yakni pada tahun 2008  yang mencapai 12,03 persen.

Sementara kinerja terendah terjadi pada tahun 2021, yaitu hanya sebesar 0,05 persen. Selama 20 tahun belakangan, kinerja rata-rata indeks saham LQ45 berada di 4,26 persen.

Adapun sektor teknologi atau tekno masih memiliki potensi yang menarik saat window dressing. Walaupun memang, kinerja sahamnya saat ini masih terkontraksi dan belum konsisten seperti saham LQ45.

Melansir riset Samuel Sekuritas Indonesia yang dirilis pada Kamis (1/12) berjudul “Technology Sector: Should We Revisit Tech Valuation?”, perusahaan tekno masih punya peluang untuk bertumbuh.

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) berhasil membukukan tingkat pengembalian yang lebih baik karena berfokus kepada GMV dan tidak lagi mengandalkan promosi besar-besaran.

Strategi tersebut membantu perusahaan tekno untuk bersiap di tahun depan di tengah keterbatasan pendanaan karena kemungkinan resesi dan upaya perusahaan tekno untuk mandiri.

Adapun riset tersebut memproyesikan GOTO untuk membukukan margin positif di kuartal IV-2023. Sementara kompetitornya, PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) akan membukukan margin lebih cepat di kuartal I-2023.

Sementara riset Samuel Sekuritas juga memberikan rating netral untuk sektor teknologi dengan BUKA dan PT NFC Indonesia Tbk (NCFX) sebagai pilihan utama.

Senada dengan riset Samuel Sekuritas, riset CGS CIMB bertajuk “Technology Overall: Takeaways from SG & KL Marketing” yang dirilis pada 7 November 2022 juga memilih BUKA sebagai pilihan utama.

“Kami mempertimbangkan peningkatan profitabilitas BUKA yang akan mencapai titik impas EBITDA pada kuartal IV-2023 mendatang,” tulis riset tersebut.

Di samping itu, CGS CIMB juga memberikan rating netral terhadap sektor tekno. Adapun sejumlah risiko seperti sikap hawkish dari The Fed yang berpengaruh terhadap sentimen saham teknologi perlu diperhatikan sektor ini.

“Dari sisi ekonomi makro, adanya perlambatan transaksi bruto yang lebih buruk dari perkiraan pertumbuhan Gross Transaction Value (GTV) dan Total Processing Value (TPV) dan ketidakmampuan perusahaan dalam mencapainya bisa jadi penghambat industri ini,” tulis CGS CIMB.

Periset: Melati Kristina

(ADF)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.