Perekonomian AS Lamban, Trump : Semua Ini Ulah The Fed
Market News
Fahmi Abidin
Jumat, 09 Agustus 2019 11:45 WIB
Menurut Presiden Donald Trump, pelambatan ekonomi AS terjadi karena ulah Bank Sentral atau The Fed yang tidak mau memotong suku bunga acuan.
Perekonomian AS Lamban, Trump : Semua Ini Ulah The Fed. (Foto: Ist)

IDXChannel – Perekonomian Amerika Serikat saat ini mengalami perlambatan. Menurut Presiden Donald Trump, hal tersebut terjadi karena ulah Bank Sentral atau The Fed yang tidak mau memotong suku bunga acuan.

“Mereka harus memotong suku bunga lebih besar dan lebih cepat,” kata Trump dalam serangkaian cuitan pada Rabu 7 Agustus 2019 waktu setempat, atau satu minggu setelah The Fed memotong suku bunga utama untuk pertama kalinya dalam satu dekade.

Menurut US Bureau of Economic Analysis, Ekonomi Amerika sejatinya masih mengalami pertumbuhan hanya saja lajunya lamban. Dalam kuartal dua tahun ini, ekonomi hanya tumbuh 2,1 persen lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya tahun lalu.

Dalam Cuitannya, Trump sering kali mengkritik The Fed dan cuitan terakhir menuntut Bank Sentral memotong suku bunga guna mendongkrak ekonomi Amerika sebelum pemilihan presiden 2020.

Trump juga menambahkan bahwa saat ini lambannya perekonomian Amerika bukan akibat sengketa dagang dengan China, tapi masalahnya adalah The Fed yang terlalu pongah untuk mengakui kesalahan mereka yang terlalu ketat.

Sementara itu, Ketua Federal Reserve ke-16 ini menyebutkan bahwa penurunan suku bunga dilakukan akibat ketidakpastian yang muncul seputar kebijakan perdagangan Amerika Serikat. Empat mantan pemimpin bank sentral yaitu Ben Bernanker, Alan Greenspan, Paul Volcker dan Janet Yellen sangat mendukung kebebasan dan pemisahan dari eksekutif lembaga tersebut.

“Persepsi bahwa keputusan moneter dimotivir oleh politik atau dipengaruhi ancaman pemecatan penyusun kebijakan, bisa memperlemah kepercayaan publik bahwa The Fed itu bertindak demi kepentingan terbaik ekonomi. Hal ini bisa mengarah pada pasar finansial tidak stabil dan hasil ekonomi lebih buruk,” demikian isi tulisan para mantan pemimpin The Fed. (*)

Baca Juga