BANKING

BI Naikkan Suku Bunga Acuan ke 5,5 Persen Dinilai Tepat, Jadi Katalis Amankan Psikologis Pasar

Anggie Ariesta 09/06/2026 16:35 WIB

Langkah antisipatif ini dinilai krusial untuk membentengi ketahanan eksternal makroekonomi nasional.

BI Naikkan Suku Bunga Acuan ke 5,5 Persen Dinilai Tepat, Jadi Katalis Amankan Psikologis Pasar. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel – Keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang mengerek suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50 persen mendapat respons positif dari pelaku industri perbankan. Langkah tersebut dinilai sebagai katalis untuk mengamankan psikologis pasar dari guncangan eksternal.

Chief Economist BTN, Myrdal Gunarto, memandang kebijakan pengetatan moneter lanjutan yang turut menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,50 persen dan Lending Facility menjadi 6,25 persen ini merupakan bentuk respons cepat bank sentral dalam mengunci ekspektasi pasar. Langkah antisipatif ini dinilai krusial untuk membentengi ketahanan eksternal makroekonomi nasional.

"Kami memandang langkah tersebut sebagai upaya antisipatif Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengurangi risiko tekanan eksternal yang dapat berdampak pada inflasi domestik maupun stabilitas sistem keuangan. Di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan global, terutama akibat eskalasi ketegangan geopolitik dan pergeseran arus modal internasional, penguatan bauran kebijakan moneter diharapkan dapat menjaga daya tarik aset keuangan domestik sekaligus memperkuat kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia," kata Myrdal dalam analisisnya, Selasa (9/6/2026).

Myrdal tidak menampik bahwa tren depresiasi kurs rupiah yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir mulai membawa dampak rembetan (spillover effect) ke sektor riil. Salah satu risiko terbesar yang diincar oleh BI melalui kenaikan suku bunga ini adalah fenomena inflasi barang impor (imported inflation).

Kenaikan harga bahan baku dari luar negeri berpotensi memukul lini industri hulu ke hilir jika tidak segera diredam melalui stabilitas nilai tukar.

"Pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa pekan terakhir telah meningkatkan risiko imported inflation, khususnya terhadap sektor-sektor yang memiliki ketergantungan tinggi pada bahan baku, barang modal, maupun komponen impor. Oleh karena itu, langkah stabilisasi yang ditempuh Bank Indonesia diharapkan dapat mempercepat proses penyesuaian pasar sekaligus menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali," kata dia.

Meskipun kenaikan suku bunga acuan berpotensi memberikan tekanan jangka pendek terhadap sektor-sektor yang sangat sensitif terhadap biaya modal (cost of fund) serta daya beli masyarakat, BTN meyakini mesin perekonomian Indonesia tidak akan kehilangan daya dorongnya.

Myrdal memproyeksikan produk domestik bruto (PDB) Indonesia sepanjang 2026 masih sanggup bertengger di kisaran 5,2 persen. Optimisme ini didasarkan pada kokohnya pilar-pilar ekonomi nasional yang digerakkan oleh aktivitas belanja dalam negeri serta proyek-proyek strategis pemerintah.

"Dari sisi pertumbuhan ekonomi, kami menilai fundamental perekonomian domestik masih relatif kuat. Berbagai sektor yang ditopang oleh aktivitas domestik, pembangunan infrastruktur, sektor perumahan, ketahanan pangan, energi, hilirisasi, serta ekspor berbasis sumber daya alam diperkirakan tetap menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2026. 

Dengan dukungan aktivitas investasi dan intermediasi perbankan yang tetap terjaga, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan masih dapat berada pada kisaran 5,2 persen pada tahun ini," kata Myrdal.

Melihat ke depan, BTN menilai bahwa ruang bagi Bank Indonesia untuk kembali menaikkan suku bunga acuan sudah relatif sempit. Fleksibilitas bauran kebijakan moneter BI, termasuk lewat instrumen SRBI, insentif swap, dan fasilitas lelang repo perbankan, dipercaya sudah cukup kuat untuk menstabilkan pasar valas tanpa harus menaikkan BI-Rate secara agresif lagi, asalkan tensi global melunak.

"Ke depan, kami melihat ruang penyesuaian BI-Rate akan sangat bergantung pada perkembangan nilai tukar rupiah, inflasi, arus modal asing, serta dinamika ekonomi global. Dengan asumsi tekanan eksternal mulai mereda dan stabilitas nilai tukar dapat terjaga, ruang kenaikan suku bunga lanjutan diperkirakan relatif terbatas. Namun demikian, Bank Indonesia diperkirakan tetap akan mempertahankan fleksibilitas kebijakan guna merespons perubahan kondisi pasar secara cepat dan terukur," kata Myrdal.

(NIA DEVIYANA)

SHARE