BI Perkuat Intervensi Pasar seiring Rupiah Sentuh Level Terendah di Rp17.315 per USD
Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk meningkatkan intensitas intervensi di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
IDXChannel – Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk meningkatkan intensitas intervensi di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, setelah mata uang Garuda kembali menyentuh level terlemah sepanjang sejarah (all-time low/ATL).
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyampaikan, dikutip Reuters, Kamis (23/4/2026), pelemahan rupiah terhadap dolar AS dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global.
Meski demikian, ia menilai laju depresiasi rupiah masih sejalan dengan mata uang negara berkembang lainnya di kawasan.
Pada perdagangan Kamis, rupiah sempat menyentuh level Rp17.315 per USD, mencatatkan rekor terendah baru.
Tekanan terhadap rupiah terjadi seiring meningkatnya sentimen risk-off akibat konflik di Timur Tengah, yang mendorong investor global menjauhi aset berisiko.
BI sebelumnya telah melakukan berbagai langkah intervensi, baik di pasar offshore maupun onshore, termasuk melalui instrumen non-deliverable forward (NDF) serta pasar spot domestik. Langkah ini bertujuan untuk meredam volatilitas dan menjaga stabilitas nilai tukar.
Selain faktor eksternal, kekhawatiran pasar terhadap keberlanjutan fiskal Indonesia, independensi bank sentral, serta transparansi pasar modal turut membebani pergerakan rupiah.
“Bank Indonesia akan terus meningkatkan intensitas intervensi guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” ujar Destry.
Destry menegaskan, BI akan terus meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan stabilitas nilai tukar tetap terjaga. Di sisi kebijakan moneter, BI juga mengoptimalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dengan menawarkan imbal hasil yang lebih menarik.
Ia melanjutkan, kebijakan ini ditujukan untuk memperkuat struktur suku bunga tanpa mengubah suku bunga acuan, sekaligus menarik aliran modal asing masuk.
Langkah tersebut diharapkan dapat menopang stabilitas rupiah di tengah tekanan global yang masih tinggi. (Aldo Fernando)