BI Ungkap Kredit Bermasalah UMKM Capai 5,6 Persen, di Atas NPL Nasional
BI mengungkap tingkat kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) pada segmen usaha
IDXChannel - Bank Indonesia (BI) mengungkap tingkat kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) pada segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih berada di kisaran 4,5-5,6 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan NPL secara nasional yang tercatat 2,09 persen.
Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman mengatakan tingginya NPL menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan dalam upaya memperluas akses pembiayaan bagi UMKM.
"Satu hal lagi yang menjadi perhatian adalah NPL-nya atau kredit macetnya, itu berada pada 4,5 sampai 5,6. Padahal kalau nasional itu cuma 2,09 persen. Jadi itu adalah hal-hal yang perlu kita perhatikan," sebut Aida pada Jumat (21/8/2026).
Selain persoalan kredit macet, Aida menyoroti pertumbuhan kredit perbankan untuk UMKM yang masih rendah. Menurut dia, kredit UMKM baru tumbuh 1,62 persen, sementara pertumbuhan kredit secara keseluruhan mencapai 13,58 persen.
Aida mengatakan keterbatasan akses pembiayaan menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi UMKM. Berdasarkan survei terhadap lebih dari 200 UMKM, kepemilikan kredit pada kuartal I dan kuartal II masih berada di kisaran 34-35 persen.
"Ternyata memang untuk posisi di kuartal 1 dan kuartal ke-2 yang warna biru bar-nya, ternyata tidak banyak yang punya kepemilikan kredit atau tidak bergerak kepemilikan kreditnya, masih di sekitar 35 sampai 34 persen," katanya.
Menurut Aida, kondisi tersebut membuat pelaku UMKM masih mengandalkan sumber pembiayaan di luar perbankan. Sumber pembiayaan yang banyak digunakan antara lain perputaran modal, uang muka, serta pinjaman dari keluarga.
"Kalau ditanya apa sih yang menjadi sumber daripada pembiayaan mereka, ternyata yang paling banyak itu adalah terkait dengan perputaran modal, tapi juga uang muka dan pinjaman dari keluarga. Jadi itu yang masih menjadi sumber utama dari UMKM," tuturnya.
Di sisi lain, Aida menegaskan UMKM memiliki peran besar dalam perekonomian Indonesia. UMKM disebut mencakup 99 persen unit usaha nasional, berkontribusi sekitar 60 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), serta menyerap 97 persen tenaga kerja.
Dia juga menyoroti besarnya peran perempuan dalam sektor UMKM. Lebih dari 60 persen pelaku UMKM disebut merupakan perempuan.
"Ini yang menjadi pekerjaan rumah kita semuanya agar kita bisa-bisa mendorong dari akses pembiayaan perbankan, tapi tidak saja perbankan, lembaga keuangan lainnya maupun dari fintech. Jadi ini yang perlu kita lakukan bersama," kata dia. (Febrina Ratna Iskana)