BSI (BRIS) Cetak Laba Rp2,2 Triliun di Kuartal I-2026, Naik 17,1 Persen
Berdasarkan paparan kinerja kuartal I-2026, total aset perusahaan tercatat sebesar Rp460 triliun hingga Maret 2026 atau tumbuh 14,78 persen (yoy).
IDXChannel - PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mencatat laba bersih tahun berjalan sebesar Rp2,2 triliun sepanjang kuartal I-2026. Angka ini naik 17,1 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Berdasarkan paparan kinerja kuartal I-2026, total aset perusahaan tercatat sebesar Rp460 triliun hingga Maret 2026 atau tumbuh 14,78 persen (yoy). Peningkatan aset didorong pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tumbuh 17,99 persen menjadi Rp377 triliun.
"Pencapaian ini menempatkan BSI pada jajaran top 5 bank nasional berdasarkan kombinasi aset dan profitabilitas. Hal ini merupakan tonggak penting yang menegaskan bahwa BSI tidak hanya memimpin pasar industri perbankan syariah, tetapi juga semakin kompetitif di perbankan nasional," ujar Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo dalam paparan kinerja perseroan kuartal I-2026 yang dilangsungkan secara virtual, Selasa (12/5/2026).
Pertumbuhan profitabilitas BSI tidak lepas dari agresivitas fungsi intermediasi. Hingga Maret 2026, total pembiayaan yang disalurkan mencapai Rp329 triliun, tumbuh 14,39 persen (yoy).
Menariknya, dana murah berupa tabungan mendominasi porsi DPK dengan pertumbuhan mencapai 20,18 persen. Peningkatan signifikan ini didorong oleh tingginya minat masyarakat, khususnya generasi muda, dalam merencanakan ibadah haji dan umrah lebih dini.
"Tabungan konsisten tumbuh dan menjadi yang tertinggi di antara bank-bank besar lainnya. Tabungan haji ini tentu saja akan menjadi kekuatan khas BSI dalam membangun customer base dan juga dana murah yang berkelanjutan," kata Anggoro.
Kinerja dari sisi ekspansi tersebut rupanya tetap diimbangi dengan penerapan prinsip kehati-hatian tingkat tinggi. Kualitas pembiayaan bank terpantau sangat terjaga dengan rasio Non-Performing Financing (NPF) Gross yang membaik 8 basis poin ke level 1,8 persen. Selain itu, pundi-pundi pendapatan non-bunga (fee based income) turut naik 22,3 persen, ditopang tingginya volume transaksi bisnis emas.
Anggoro menuturkan, manajemen menyadari bahwa pertumbuhan ke depan sangat bergantung pada keandalan layanan teknologi dan inovasi produk. Oleh karena itu, perusahaan terus memperkuat ekosistem digital untuk memfasilitasi kemudahan transaksi finansial bagi jutaan nasabahnya.
"Pertumbuhan ini tentu didukung oleh aspek infrastruktur yang semakin baik, seperti aplikasi BYOND yang penggunanya sekarang mencapai 6,5 juta atau tumbuh 76 persen. Kami akan terus memperkuat pertumbuhan yang sehat dan menjaga kinerja yang kompetitif," ujar Anggoro.
(NIA DEVIYANA)