BANKING

Defisit Menyusut Jadi USD0,9 Miliar, Kinerja Neraca Pembayaran RI Kuartal-II 2026 Tetap Terjaga

Rohman Wibowo 23/08/2026 03:00 WIB

Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal-II 2026 tercatat tetap terjaga.

Defisit Menyusut Jadi USD0,9 Miliar, Kinerja Neraca Pembayaran RI Kuartal-II 2026 Tetap Terjaga.

IDXChannel - Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal-II 2026 tercatat tetap terjaga dan menunjukkan perbaikan nyata di tengah tingginya ketidakpastian perekonomian global. 

Ketahanan sektor eksternal ini dipicu oleh lonjakan surplus transaksi modal dan finansial yang mampu mengimbangi pelebaran defisit transaksi berjalan yang bersifat sementara.

Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa ketahanan eksternal perekonomian nasional tetap solid berkat berlanjutnya kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi domestik. Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia pada kuartal-II 2026 mencatatkan perbaikan signifikan dengan penyusutan defisit yang ditopang oleh derasnya aliran masuk modal asing.

"Kinerja NPI pada kuartal-II 2026 tetap terjaga dengan mencatat defisit USD0,9 miliar, jauh lebih kecil dibandingkan dengan defisit triwulan sebelumnya sebesar USD9,1 miliar. Sementara itu, transaksi modal dan finansial mencatat surplus ditopang oleh peningkatan aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio sehingga mendukung kinerja NPI yang tetap terjaga," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan resmi, dikutip Sabtu (22/8/2026).

Kondisi neraca pembayaran yang prima turut menopang posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 yang tetap kokoh sebesar USD145,6 miliar. 

Akumulasi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, berada jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Di sisi lain, transaksi berjalan pada kuartal-II 2026 mencatatkan defisit sebesar USD12,5 miliar atau setara 3,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), melebar dibandingkan defisit pada kuartal-I 2026 yang sebesar 3,6 miliar dolar AS (1,0 persen dari PDB). 

Pembengkakan defisit ini dipengaruhi oleh faktor musiman dan kenaikan harga energi global. Sejalan dengan itu, pembengkakan defisit transaksi berjalan tersebut dipicu oleh lonjakan impor migas dan tingginya kebutuhan pengadaan barang modal untuk aktivitas ekonomi dalam negeri. 

Otoritas moneter memprakirakan tekanan pada pos transaksi berjalan ini hanya berlangsung temporer sejalan dengan dinamika siklus perdagangan luar negeri.

"Defisit neraca perdagangan migas meningkat akibat kenaikan impor minyak sejalan tingginya harga minyak dunia, sedangkan surplus neraca perdagangan nonmigas tercatat lebih rendah dipengaruhi peningkatan impor nonmigas untuk kebutuhan kegiatan ekonomi dalam negeri yang masih tinggi," kata Denny. (Wahyu Dwi Anggoro)

SHARE