BANKING

Gejolak Global Jadi Risiko Utama, Ini Strategi Bank Mandiri Hadapi 2026

Tim IDXChannel 15/01/2026 13:12 WIB

Optimisme pelaku industri perbankan masih kuat di 2026, seiring terjaganya likuiditas dan stabilitas pemerintahan baru.

Gejolak Global Jadi Risiko Utama, Ini Strategi Bank Mandiri Hadapi 2026. Foto: IDX Channel.

IDXChannel - Optimisme pelaku industri perbankan masih kuat di 2026, seiring terjaganya likuiditas dan stabilitas pemerintahan baru. 

Head of Investor Relations Bank Mandiri, Laurencius Teiseran, optimistis 2026 akan lebih baik dibandingkan 2025 yang penuh penyesuaian. Berdirinya institusi baru seperti Danantara diharapkan mampu menopang perekonomian nasional.

Namun, dia menekankan bahwa risiko geopolitik global masih menjadi ancaman yang tidak bisa dikendalikan. Gejolak harga komoditas seperti minyak dan batu bara, serta fluktuasi nilai tukar, dapat berdampak langsung pada kinerja ekspor Indonesia.

“Risiko terbesar justru dari luar. Kita tidak bisa serta merta melihat 2026 tanpa risiko. Karena itu, Bank Mandiri tidak hanya punya Plan A, tapi juga Plan B, C, hingga D,” ujar Laurencius dalam The Fundamental IDXChannel, dikutip Kamis (15/1/2026).

Pentingnya Dana Darurat Korporasi

Untuk mengantisipasi ketidakpastian tersebut, Bank Mandiri menerapkan strategi konservatif dengan menyiapkan buffer atau bantalan yang kuat, baik dari sisi permodalan maupun pencadangan (Cadangan Kerugian Penurunan Nilai/CKPN).

Laurencius mengibaratkan strategi ini seperti dana darurat dalam rumah tangga. Ketika terjadi hal yang tidak terantisipasi, bank tetap memiliki daya tahan yang solid tanpa mengganggu operasional utama.

"Kita harus agile. Bulan ini mungkin optimistis, tapi Februari bisa saja ada hal baru. Makanya kita perlu punya tabungan atau buffer untuk menghadapi skenario terburuk,” kata dia.

Strategi defensif ini dikombinasikan dengan penguatan pendapatan berbasis komisi (fee-based income). Aplikasi Livin’ by Mandiri dan transaksi treasury menjadi andalan perseroan untuk menjaga pertumbuhan laba tanpa harus selalu menggerus modal seperti pada penyaluran kredit.

“Fee itu penting karena sifatnya berkelanjutan dan bebas kapital. Ini strategi kami untuk menopang pertumbuhan laba di luar pendapatan bunga,” kata Laurencius. (Nasywa Salsabila)

(NIA DEVIYANA)

SHARE