BANKING

Kredit Modal Kerja Dominasi Portofolio Kredit Bank Woori Saudara (SDRA)

Tim IDXChannel 27/08/2026 10:37 WIB

PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (SDRA) atau BWS mencatatkan kredit modal kerja sebagai porsi terbesar dalam portofolio kredit perseroan.

Kredit Modal Kerja Dominasi Portofolio Kredit Bank Woori Saudara (SDRA). (Foto: BWS)

IDXChannel - PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (SDRA) atau BWS mencatatkan kredit modal kerja sebagai porsi terbesar dalam portofolio kredit perseroan hingga semester I-2026.

Per Juni 2026, kredit modal kerja mencapai Rp20,90 triliun atau sekitar separuh dari total kredit yang disalurkan BWS.

Berdasarkan laporan keuangan BWS, kredit modal kerja tersebut terdiri atas pembiayaan dalam rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS).

Kredit modal kerja kepada pihak berelasi tercatat Rp75,27 miliar, sementara kredit kepada pihak ketiga dalam rupiah mencapai Rp10,61 triliun dan dalam dolar AS sekitar Rp10,21 triliun. Secara keseluruhan, nilainya mencapai Rp20,90 triliun.

Pada periode yang sama, total kredit BWS tercatat sebesar Rp40,34 triliun. Dengan demikian, kredit modal kerja menyumbang sekitar 51,8 persen dari keseluruhan portofolio kredit perseroan.

Porsi tersebut menunjukkan bahwa kredit modal kerja menjadi bagian penting dalam penyaluran kredit BWS.

Pembiayaan jenis ini umumnya digunakan nasabah untuk memenuhi kebutuhan operasional usaha, mulai dari kebutuhan kas, pembelian bahan baku, hingga pembiayaan piutang dan aktivitas bisnis sehari-hari.

Analis NH Korindo Sekuritas, Leonardo Lijuwardi menilai karakter kredit modal kerja yang memiliki siklus relatif lebih pendek dibandingkan dengan kredit investasi memberikan ruang bagi perbankan untuk lebih aktif mengelola portofolio pembiayaan sesuai dengan perkembangan kondisi usaha nasabah.

“Porsi kredit modal kerja yang besar dapat menjadi sumber pendapatan bunga yang relatif berulang karena kebutuhan pembiayaan operasional perusahaan terus berputar. Bagi bank, tenor yang relatif lebih pendek juga memberikan fleksibilitas untuk melakukan repricing maupun menyesuaikan ekspansi kredit dengan kondisi likuiditas dan risiko,” kata Leo.

Kinerja intermediasi tersebut berlangsung seiring dengan perbaikan profitabilitas BWS. Sepanjang enam bulan pertama 2026, perseroan membukukan pendapatan bunga bersih sebesar Rp789,78 miliar.

Pada periode yang sama, laba bersih BWS mencapai Rp594,09 miliar, meningkat dibandingkan semester I-2025 yang sebesar Rp82,67 miliar.

Dari sisi pendanaan, simpanan nasabah BWS tercatat Rp29,46 triliun per akhir Juni 2026. Struktur pendanaan tersebut terdiri atas simpanan pihak berelasi sebesar Rp13,84 miliar dan pihak ketiga sebesar Rp29,44 triliun.

Menurut Leo, kualitas pertumbuhan kredit akan menjadi faktor penting ke depan, di samping besarnya penyaluran pembiayaan.

“Yang perlu dijaga bukan hanya pertumbuhan volume, tetapi juga kualitas debitur dan pricing kredit. Jika ekspansi kredit modal kerja dapat dibarengi pengelolaan risiko dan biaya dana yang disiplin, segmen ini berpotensi tetap menjadi salah satu motor pendapatan bunga BWS,” tutur Leo. (Aldo Fernando)

SHARE