Manfaatkan Kondisi Geopolitik, Bank Mega Syariah Genjot Ekspansi Pembiayaan Emas
dalam situasi ketidakseimbangan ekonomi global, emas cenderung mampu mempertahankan daya beli dan memberikan stabilitas nilai aset.
IDXChannel - Kondisi geopolitik global yang semakin tak menentu turut mengubah concern masyarakat dalam berinvestasi, dengan semakin diminatinya emas sebagai instrumen investasi berlabel 'safe haven' yang tidak hanya defensif, namun juga relevan dalam menjaga stabilitas nilai kekayaan.
Tren perubahan tersebut terkonfirmasi oleh data terbaru World Gold Council, yang mencatat pembelian emas oleh bank sentral dunia telah menembus lebih dari 1.000 ton per tahun, dalam beberapa tahun terakhir.
"Ini menjadi salah satu catatan level tertinggi sepanjang sejarah. Sedangkan di pasar domestik, trennya juga sama. Dalam sebuah survei Jakpat (mobile survei online) tentang Indonesia Investment Trends, 67 persen responden memilih emas perhiasan, 66 persen pilih emas logam mulia, dan 63 persen pilih properti," ujar Digital Business & Product Management Division Head Bank Mega Syariah, Benadicto Alvonzo Ferary, dalam keterangan resminya, Jumat (24/4/2026).
Menurut Benadicto, profil investasi emas saat ini telah mengalami perubahan signifikan, dengan memiliki karakteristik unggul sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakstabilan ekonomi.
Karenanya, dalam situasi ketidakseimbangan ekonomi global mulai dari tekanan inflasi hingga volatilitas pasar keuangan, emas cenderung mampu mempertahankan daya beli dan memberikan stabilitas nilai aset.
"Dalam kondisi global yang penuh ketidakpastian, emas semakin dipandang sebagai alat proteksi nilai. Kami melihat adanya pergeseran perilaku investor, di mana emas kini menjadi instrumen utama dalam strategi investasi jangka panjang, bukan sekadar pelengkap," ujar Benadicto.
Dengan berbekal pemahaman tersebut, Bank Mega Syariah pun berupaya memperluas akses masyarakat terhadap investasi emas, dengan menghadirkan produk pembiayaan emas Flexi Gold dengan skema yang dirancang fleksibel dan terjangkau.
Melalui produk ini, nasabah dapat memiliki emas logam mulia 24 karat secara bertahap, dengan pilihan tenor pembiayaan mulai dari satu hingga lima tahun, serta pilihan gramasi yang beragam, mulai dari lima gram hingga 100 gram.
Benadicto menjelaskan, produk Flexi Gold telah disusun sesuai dengan prinsip syariah dan mendapatkan persetujuan Dewan Pengawas Syariah, dengan mengacu pada sejumlah fatwa Majelis Ulama Indonesia terkait jual beli emas, pembiayaan berbasis rahn, serta akad murabahah.
"Melalui Flexi Gold, kami ingin membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat untuk memiliki emas secara bertahap. Dengan cicilan yang ringan dan terjangkau, nasabah dapat membangun portofolio investasi jangka panjang secara disiplin sekaligus memanfaatkan momentum penguatan harga emas," ujar Benadicto.
Sejauh ini, produk pembiayaan emas Flexi Gold Bank Mega Syariah telah mencatatkan kinerja positif sepanjang tiga bulan pertama 2026. Hingga Maret 2026, penyaluran Flexi Gold tumbuh lebih dari 756 persen dibandingkan posisi Desember 2025.
Minat masyarakat terhadap Flexi Gold tercatat cukup tinggi di wilayah Jabodetabek dan kota-kota besar di Pulau Jawa serta Sumatera.
Secara khusus, Jakarta mendominasi pasar dengan kontribusi terbesar mencapai 41,79 persen dari total nilai booking nasional, disusul oleh Tangerang yang mencatatkan proporsi signifikan sebesar 14,08 persen, dan Palembang di posisi ketiga dengan andil sebesar 7,15 persen.
Selain ketiga kota utama tersebut, pembiayaan ini juga diminati oleh masyarakat di berbagai kota strategis lainnya seperti Bandung, Semarang, Depok, Surabaya, Yogyakarta, Makassar, serta Medan dan sekitarnya, yang secara akumulatif mencakup sisa 36,98 persen dari total portofolio pembiayaan emas perusahaan.
"Ke depan, kami optimistis tren investasi emas akan terus meningkat, seiring dengan dinamika global serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya diversifikasi dan perlindungan nilai aset," ujar Benadicto.
(taufan sukma)