BANKING

Maybank Indonesia (BNII) Bukukan PATAMI Rp299 Miliar di Kuartal I-2026

Dhera Arizona Pratiwi 29/05/2026 22:30 WIB

PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) membukukan Profit After Tax and Minority Interest (PATAMI) sebesar Rp299 miliar pada kuartal I-2026.

Maybank Indonesia (BNII) Bukukan PATAMI Rp299 Miliar di Kuartal I-2026. (Foto Istimewa)

IDXChannel - PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) membukukan Profit After Tax and Minority Interest (PATAMI) sebesar Rp299 miliar pada kuartal I-2026.

Sebagaimana disampaikan melalui siaran pers yang dirilis Maybank Indonesia pada Jumat (29/5/2026), pada kuartal I-2026 Maybank Indonesia membukukan Pendapatan Bunga Bersih (NII) sebesar Rp1,81 triliun, meningkat 2,1 persen, didukung oleh penurunan beban bunga serta komposisi pendanaan yang membaik. Net Interest Margin (NIM) tetap stabil pada level 4,3 persen Y-o-Y.

Fundamental bisnis inti Bank tetap kuat. Hal ini didukung oleh pertumbuhan kredit di beberapa segmen diiringi profil pendanaan yang membaik. Kualitas aset juga membaik, dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) sebesar 2,3 persen (gross) dan 1,4 persen (net) pada Maret 2026 dibandingkan 2,4 persen (gross) dan 1,5 persen (net) pada Maret 2025.

Beban operasional naik 4,5 persen Y-o-Y sehubungan dengan aktivitas bisnis Bank. Laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) tercatat sebesar Rp523 miliar, sedangkan beban pencadangan turun 47,9 persen Y-o-Y menjadi Rp123 miliar, mencerminkan kualitas aset membaik serta penerapan manajemen risiko yang pruden.

Tekanan geopolitik global yang terjadi pada kuartal I-2026 menimbulkan volatilitas pasar keuangan. Kondisi ini telah berdampak pada aktivitas trading surat berharga dan valuta asing Global Markets (GM), sehingga pendapatan fee GM turun menjadi Rp20 miliar.

Sementara, pendapatan fee selain GM juga mengalami penurunan meskipun pendapatan fee Premier Wealth tumbuh 20,0 persen. Dengan demikian, Pendapatan Non-Bunga (NOII) turun 29,6 persen Y-o-Y menjadi Rp402 miliar. Gross Operating Income tercatat sebesar Rp2,22 triliun dibandingkan Rp2,35 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kredit dan Simpanan

Kredit non-ritel CFS mencatat pertumbuhan sebesar 7,1 persen Y-o-Y menjadi Rp39,89 triliun ditopang oleh pertumbuhan kredit segmen komersial (Business Banking) sebesar 15,6 persen menjadi Rp17,46 triliun dan kredit segmen Small and Medium Enterprise (SME+) yang tumbuh 12,3 persen.

Kredit segmen non-ritel SME (RSME) turun 3,0 persen. Kredit ritel CFS tumbuh 4,1 persen Y-o-Y didukung pembiayaan otomotif anak usaha yang meningkat 7,4 persen serta kredit konsumer (kartu kredit dan KTA) yang tumbuh 6,7 persen. Kredit CFS ritel dan non-ritel tumbuh 5,4 persen menjadi Rp88,33 triliun.

Kredit korporasi Global Banking (GB) mencatat penurunan sebesar 12,4 persen Y-o-Y. Namun, kredit segmen Large Local Corporate (LLC) GB dan transaksi Shariah Restricted Investment Account (SRIA) telah menunjukkan peningkatan yang akan dibukukan pada kuartal selanjutnya.

Pada Maret 2026, total kredit yang disalurkan relatif stabil sebesar Rp121,99 triliun. Total aset tercatat sebesar Rp192,17 triliun, naik 1,2 persen Y-o-Y.

Simpanan nasabah meningkat sebesar 6,1 persen Y-o-Y menjadi Rp118,35 triliun didorong pertumbuhan Giro sebesar 37,5 persen, sementara Tabungan turun sebesar 1,9 persen. Deposito berjangka turun 12,3 persen, sejalan dengan upaya Bank untuk memperkuat komposisi pendanaan dan mengoptimalkan biaya dana.

Rasio CASA meningkat menjadi 61,2 persen pada Maret 2026 dari 53,0 persen pada Maret 2025.

Permodalan dan Likuiditas

Posisi permodalan Bank tetap kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 26,3 persen dan rasio Common Equity Tier 1 (CET1) sebesar 25,2 persen.

Likuiditas tetap sehat dengan Loan-to-Deposit Ratio (LDR) Bank-only sebesar 85,5 persen, Liquidity Coverage Ratio (LCR) Bank-only sebesar 146,2 persen, dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) Bank-only sebesar 112,4 persen.

Perbankan Syariah

Total pembiayaan syariah tumbuh 10,4 persen Y-o-Y menjadi Rp32,23 triliun didukung pembiayaan Community Financial Services (CFS) dan Global Banking (GB) syariah. Pembiayaan syariah CFS meningkat 10,4 persen menjadi Rp23,16 triliun dan pembiayaan GB syariah tumbuh 10,3 persen menjadi Rp9,07 triliun.

Pertumbuhan pembiayaan CFS non-ritel syariah ditopang oleh segmen SME+ dan Retail SME (RSME) yang tumbuh masing-masing sebesar 39,1 persen dan 6,0 persen. Pembiayaan ritel CFS syariah meningkat 12,5 persen menjadi Rp10,78 triliun yang didorong utamanya oleh pembiayaan properti yang tumbuh 14,7 persen. Sementara itu, pembiayaan korporasi segmen GB-LLC tumbuh 30,2 persen Y-o-Y.

Total pembiayaan syariah Maybank Indonesia berkontribusi sebesar 30,2 persen terhadap total portofolio pembiayaan Bank (Bank-only), sementara total aset Syariah menyumbang 24,5 persen terhadap total aset Bank (Bank-only).

Melalui Perbankan Syariah, Maybank Indonesia meluncurkan solusi Shariah Restricted Investment Account (SRIA) pertama di Indonesia. SRIA dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan investor tertentu dan ikut berpartisipasi dalam membiayai suatu badan usaha. Dalam pelaksanaannya, Bank bertindak sebagai arranger, dan hingga kini, outstanding transaksi SRIA telah mencapai Rp500 miliar.

Total simpanan Perbankan Syariah tumbuh 7,5 persen menjadi Rp35,50 triliun didukung oleh pertumbuhan Giro dan Tabungan (CASA) sebesar 28,8 persen Y-o-Y. Giro tumbuh 60,1 persen menjadi Rp14,22 triliun dan Tabungan tumbuh 1,5 persen menjadi Rp10,29 triliun. Deposito berjangka turun 21,5 persen Y-o-Y sejalan dengan upaya Bank dalam mengoptimalkan komposisi pendanaan. Rasio CASA meningkat menjadi 69,1 persen pada Maret 2026 dibandingkan 57,6 persen pada Maret 2025.

Kualitas aset membaik dengan Non-Performing Financing (NPF) sebesar 2,2 persen (gross) dan 1,5 persen (net) pada Maret 2026 dibandingkan 2,4 persen (gross) dan 1,7 persen (net) pada Maret 2025. Financing-to-Deposit Ratio (FDR) tercatat sebesar 85,4 persen.

Laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) Perbankan Syariah meningkat 20,9 persen Y-o-Y didukung pendapatan setelah distribusi bagi hasil yang naik 5,9 persen diiringi biaya dana yang menurun. Pendapatan operasional lainnya juga meningkat 18,1 persen Y-o-Y didorong pendapatan fee dari pembiayaan yang disalurkan dan transaksi reksa dana, khususnya, Shariah Wealth Management (SWM).

Beban pencadangan turun 69,8 persen Y-o-Y setelah Bank melakukan pre-emptive provisioning pada tahun sebelumnya dalam rangka menjaga kualitas aset.

Pada kuartal I-2026, Perbankan Syariah membukukan laba sebelum pajak (PBT) sebesar Rp226 miliar, meningkat 52,1 persen Y-o-Y dibandingkan Rp149 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Presiden Direktur Maybank Indonesia Steffano Ridwan mengatakan, kinerja Bank pada kuartal I-2026 dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan geopolitik global dan volatilitas pasar.

“Dalam kondisi ini, kami menyesuaikan ekspektasi dan fokus memanfaatkan peluang pertumbuhan pada segmen ritel dan non-ritel, korporasi (GB) termasuk Perbankan Syariah di tengah ketidakpastian yang berlangsung di sepanjang kuartal. Ke depan, kami akan terus berupaya dalam menangkap peluang pertumbuhan melalui ekosistem Whole of Maybank serta, di saat yang sama, memperkuat bisnis inti sejalan dengan strategi ROAR30 Maybank Group,” ujarnya.

Presiden Komisaris Maybank Indonesia Dato’ Sri Khairussaleh Ramli menyampaikan, kinerja Bank pada kuartal I-2026 telah dibayangi volatilitas pasar.

“Dari sisi arah bisnis, kami meyakini langkah memperkuat fundamental UKM akan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan. Ini merupakan arah strategis yang telah kami canangkan di Maybank Group,” kata dia.

Anak Usaha

PT Maybank Indonesia Finance (Maybank Finance)

Total pembiayaan Maybank Finance meningkat 12,7 persen Y-o-Y menjadi Rp8,61 triliun. PBT meningkat 24,6 persen Y-o-Y menjadi Rp177 miliar. Kualitas aset tetap terjaga dengan NPL sebesar 0,3 persen (gross) dan 0,1 persen (net) pada Maret 2026 dibandingkan 0,2 persen (gross) dan 0,1 persen (net) pada Maret 2025.

PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM Finance)

Total pembiayaan WOM Finance naik 7,4 persen Y-o-Y menjadi Rp6,70 triliun. PBT tercatat menurun sebesar 58,1 persen Y-o-Y menjadi Rp33 miliar sehubungan pencadangan. Rasio NPL WOM tetap stabil pada level 2,2 persen (gross) dan 1,0 persen (net) pada Maret 2026 dan Maret 2025.

(Dhera Arizona)

SHARE