BANKING

Potensi Besar, BTN (BBTN) Dorong Pekerja Informal Jadi Nasabah KPR

Anggie Ariesta 11/04/2026 03:00 WIB

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) menyoroti rendahnya akses pembiayaan perumahan bagi pekerja di sektor informal (non-fixed income).

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) menyoroti rendahnya akses pembiayaan perumahan bagi pekerja di sektor informal (non-fixed income). (Foto: Ist)

IDXChannel - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN (BBTN) menyoroti rendahnya akses pembiayaan perumahan bagi pekerja di sektor informal (non-fixed income). Padahal, segmen pekerja informal mendominasi struktur angkatan kerja nasional dengan porsi lebih dari 60 persen.

Direktur Consumer Banking BTN, Hirwandi Gafar mengungkapkan, meski dominan, jumlah pekerja informal yang berhasil mendapatkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) berada di bawah angka 10 persen. Situasi ini dinilainya menunjukkan ketimpangan yang menjadi prioritas perseroan dalam mendorong inklusi keuangan yang lebih merata di sektor properti.

“Kita lihat pekerja non-fixed income itu lebih dari 60 persen, tapi yang mendapatkan KPR selama ini masih di bawah 10 persen,” ujar Hirwandi dalam media briefing di Bandung, Jawa Barat, Kamis (9/4/2026).

Selama ini, sistem perbankan cenderung memprioritaskan pekerja dengan penghasilan tetap (fixed income). Hal ini membuat kelompok pedagang kecil, pelaku usaha mikro, hingga pekerja lepas (freelancer) kerap menemui kendala administratif dan persyaratan perbankan saat mengajukan kredit hunian.

Sebagai solusi, BTN mulai memperkenalkan skema Kredit Program Perumahan (KPP) atau KUR perumahan yang dirancang khusus mengikuti karakteristik keuangan sektor informal. Skema ini menawarkan bunga rendah yang kompetitif namun dengan tenor yang lebih panjang.

“Produk ini bunganya sama dengan KUR, sekitar 6 persen. Tapi jangka waktunya bisa lebih panjang, sehingga lebih fleksibel bagi pelaku usaha,” kata Hirwandi.

Data BTN menunjukkan bahwa profil pengaju KPR subsidi saat ini didominasi oleh kelompok masyarakat dengan rata-rata penghasilan Rp4,9 juta per bulan. Sebagian besar dari pemohon tersebut berasal dari ekosistem informal.

Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu menekankan, urgensi kepemilikan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah tidak berkurang meskipun di tengah tantangan ekonomi, karena rumah merupakan kebutuhan primer.

“Rumah itu kebutuhan dasar. Orang akan tetap berusaha punya rumah, apapun kondisinya,” kata Nixon.

Guna mempercepat penyaluran, BTN tidak hanya mengandalkan skema pembiayaan baru, tetapi juga memperluas kerja sama dengan platform digital dan layanan keuangan berbasis komunitas. Langkah ini diharapkan dapat mendekatkan layanan perbankan langsung ke titik-titik aktivitas ekonomi pekerja informal.

Perluasan akses ini diharapkan tidak hanya meningkatkan angka kepemilikan rumah nasional, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam mendorong pemerataan kesejahteraan bagi jutaan pekerja informal di Indonesia.

>

(Rahmat Fiansyah)

SHARE