Ketika Pasar Berbicara Pelan: IHSG, Rupiah, dan Kepercayaan yang Harus Dibayar dengan Kerja
Pasar modal Indonesia bergejolak setelah MSCI mengumumkan pembekuan bagi saham-saham Indonesia.
OPINI
Pasar modal tidak pernah jatuh tanpa sebab, tetapi ia juga tidak selalu jatuh karena ekonomi runtuh. Ketika IHSG anjlok tajam, yang sesungguhnya bergerak bukan hanya angka di papan perdagangan, melainkan sesuatu yang jauh lebih rapuh: rasa percaya. Kepercayaan itu tidak kasatmata, tidak tercatat di neraca negara, tetapi begitu ia goyah, uang bergerak lebih cepat daripada kata-kata penenang.
Gejolak ini dipicu oleh penilaian MSCI, tetapi menyebutnya semata sebagai tekanan eksternal justru membuat kita menghindari cermin. Pasar global tidak sedang memusuhi Indonesia. Ia sedang membaca kita, seperti orang membaca buku. Dan persoalannya bukan pada ceritanya, melainkan pada halaman-halaman yang sulit dibaca: data yang tidak selalu sinkron, aturan yang terasa lentur, dan kepastian yang kerap datang terlambat. Dalam dunia pasar, ketidakjelasan adalah bunyi alarm. Dan ketika alarm berbunyi, refleks paling manusiawi adalah menjauh.
Perlu ditegaskan sejak awal agar tidak menyesatkan publik: ini bukan krisis ekonomi nasional. Tidak ada antrean panjang di toko, tidak ada mesin yang berhenti berputar. Namun justru karena itulah peristiwa ini penting. Ia menunjukkan bahwa sebuah negara bisa tetap berjalan, tetapi pasar modalnya kehilangan kepercayaan. Dan kehilangan kepercayaan selalu lebih mahal daripada kehilangan angka pertumbuhan.
Guncangan di bursa segera merembet ke kurs rupiah. Mekanismenya sederhana, bahkan nyaris banal. Saham dijual, rupiah ditukar, modal pergi. Rupiah pun tertekan, bukan karena fondasi ekonomi tiba-tiba rapuh, melainkan karena arus keluar yang terjadi bersamaan dan emosional. Di titik inilah Bank Indonesia berdiri sebagai penyangga, bukan untuk menantang pasar, tetapi untuk menjaga agar kegelisahan tidak berubah menjadi kepanikan berantai. Pelemahan rupiah dalam konteks ini adalah bayangan dari masalah utama, bukan sumbernya. Namun bayangan yang dibiarkan terlalu lama bisa tampak lebih besar daripada bendanya sendiri.
Akar persoalan sesungguhnya tidak rumit, hanya sering dihindari. Pasar global hidup dari sistem, bukan dari niat baik. Ia tidak peduli seberapa keras kita menyatakan komitmen, selama data masih menyisakan celah tafsir. Kepemilikan saham, free float, keterbukaan informasi—semuanya bukan sekadar istilah teknis, melainkan bahasa kepercayaan. Begitu bahasa itu tidak konsisten, pasar berhenti mendengarkan penjelasan panjang. Ia memilih pergi.
Di sinilah negara diuji, bukan dalam kemampuannya menenangkan, tetapi dalam keberaniannya membereskan. Data pasar harus dijadikan urusan serius, dengan satu sumber yang jelas, sinkron, dan bisa diperiksa kapan saja. Selama masih ada selisih angka, sekecil apa pun, kecurigaan akan selalu menemukan rumah. Pengawasan pasar pun harus tampil tegas dan tidak ambigu. Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia tidak cukup hanya mengelola mekanisme, tetapi harus menjaga marwah pasar. Dunia keuangan global lebih menghormati aturan yang keras namun konsisten, daripada kebijakan yang tampak ramah tetapi mudah berubah.
Komunikasi pemerintah juga perlu berubah watak. Pasar tidak membutuhkan kalimat yang menenangkan hati, melainkan penjelasan yang bisa diuji akal. Apa yang salah, apa yang sedang dibenahi, dan kapan selesai. Pasar tidak anti pada masalah; ia hanya tidak sabar pada ketidakjelasan. Pada saat yang sama, jarak antara pasar dan politik harus dijaga dengan disiplin. Setiap kesan bahwa aturan bisa digeser demi kepentingan sesaat akan langsung dihitung sebagai risiko tambahan.
Bagi investor ritel, kehadiran negara seharusnya tidak berbentuk janji pemulihan cepat. Yang lebih dibutuhkan adalah kejujuran bahwa pasar memang bisa jatuh, bahwa risiko bukan kecelakaan, melainkan bagian dari perjalanan. Kepanikan massal sering lahir bukan karena kerugian, tetapi karena ketidaksiapan menerima kenyataan bahwa pasar tidak pernah bergerak lurus ke atas.
Anjloknya IHSG dan tekanan pada rupiah pada akhirnya menyampaikan satu pesan yang sama, dengan nada yang pelan tetapi tegas: kepercayaan tidak bisa ditawar, ia harus dikerjakan. Tidak dengan retorika, tidak dengan saling menyalahkan, melainkan dengan kerja sunyi yang konsisten. IHSG boleh jatuh hari ini, rupiah boleh berfluktuasi, tetapi yang sedang diuji sesungguhnya adalah apakah kita cukup dewasa untuk memahami bahwa di pasar global, kepercayaan adalah mata uang paling keras—dan paling mahal.
*Penulis adalah Anggota DPR-RI dari Fraksi Gerindra
(Rahmat Fiansyah)