ADB Perkirakan Pertumbuhan Kawasan Asia dan Pasifik Melambat Jadi 4,7 Persen di 2026
ADB memperkirakan pertumbuhan di kawasan Asia dan Pasifik akan melambat menjadi 4,7 persen tahun ini dari 5,4 persen tahun lalu
IDXChannel - Asian Development Bank (ADB) memperkirakan pertumbuhan di kawasan Asia dan Pasifik akan melambat menjadi 4,7 persen tahun ini dari 5,4 persen tahun lalu.
Sementara inflasi diperkirakan meningkat menjadi 5,2 persen dari 3,0 persen. Hal tersebut dikarenakan gangguan berkepanjangan akibat konflik tersebut menyebabkan kenaikan harga energi, pengetatan kondisi keuangan, dan membebani aktivitas ekonomi di seluruh kawasan.
Dalam skenario buruk yang lebih parah, yakni jika konflik kembali memanas sehingga harga minyak melonjak pada Mei 2026 dan tetap berada pada level yang lebih tinggi, pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia dan Pasifik yang sedang berkembang dapat melambat menjadi 4,2 persen tahun ini dan 4,0 persen tahun depan, sementara inflasi dapat mencapai 7,4 persen pada 2026.
Presiden Asian Development Bank (ADB) Masato Kanda menggambarkan ADB sebagai “penopang stabilitas” yang memiliki posisi unik untuk membantu mengarahkan kawasan ini melewati masa-masa fragmentasi geopolitik, dampak konflik yang menghancurkan, gangguan ekonomi yang mendalam, serta tekanan lingkungan yang semakin meningkat.
ADB akan memanfaatkan mandat regionalnya yang tak tertandingi, kemampuan operasional yang unik, serta kemampuannya untuk bertindak sebagai penyandang dana, penasihat, dan penggerak guna mengatasi tantangan seperti menggalang dana dari sektor swasta untuk pembangunan dan menghentikan degradasi lingkungan.
“Tugas yang menanti di depan sangatlah berat, tetapi tujuan kita jelas. Kita memiliki strateginya. Kita memiliki sumber dayanya. Kita memiliki tekad bersama untuk melaksanakannya,” ujarnya dikutip Senin (4/5/2026).
Sebelumnya, Presiden ADB membuka Pertemuan Tahunan ke-59 ADB dengan menyerukan kepada kawasan Asia dan Pasifik untuk “bekerja sama demi berkembang bersama” melalui hubungan lintas batas yang lebih kuat yang mendorong ketahanan dan pertumbuhan inklusif.
“Keputusan yang kita ambil di persimpangan jalan baru ini akan menjamin masa depan bagi generasi mendatang,” ujar Kanda dalam sesi pembukaan pertemuan tersebut.
Di dunia yang terfragmentasi ini, pendekatan pembangunan yang konvensional dan terisolasi tidak akan berhasil. "Untuk bertahan dan berkembang di era baru ini, kita harus membangun sistem yang saling terhubung erat dan tangguh," tuturnya.
Pertemuan Tahunan ke-59 Dewan Gubernur ADB diselenggarakan pada tanggal 3 hingga 6 Mei 2026 di Samarkand, Uzbekistan, dengan tema
“Persimpangan Kemajuan: Memajukan Masa Depan Kawasan yang Terhubung.” Pertemuan ini mempertemukan para pembuat kebijakan, pemimpin sektor swasta, mitra pembangunan, dan para inovator untuk mengembangkan solusi praktis di bidang konektivitas kawasan, inovasi digital, dan pembiayaan pembangunan.
Dalam sambutannya, Presiden Kanda menekankan bagaimana guncangan-guncangan yang terjadi saat ini menyebar dengan cepat melintasi batas-batas negara—melalui pasar energi, rantai pasokan, dan jaringan digital—dan berdampak paling berat pada komunitas-komunitas yang paling rentan. Untuk mengatasi tantangan-tantangan ini, diperlukan solusi regional yang terkoordinasi dan melampaui batas-batas negara, ujarnya.
Tahun lalu, ADB memberikan dukungan keuangan sebesar USD29,3 miliar kepada kawasan Asia dan Pasifik, sekaligus melaksanakan reformasi yang memungkinkannya memberikan bantuan dengan lebih cepat dan dalam skala besar.
Pada hari Minggu, ADB meluncurkan program senilai USD70 miliar untuk membangun sistem regional yang akan memperkuat keamanan bersama dan ketahanan di Asia dan Pasifik.
Program ini mencakup inisiatif senilai USD50 miliar untuk membangun Jaringan Listrik Pan-Asia yang bertujuan mengintegrasikan energi terbarukan lintas batas, meningkatkan keamanan energi, dan mengurangi emisi; serta inisiatif senilai USD20 miliar yang dirancang untuk memperluas konektivitas digital lintas batas dan mengatasi kesenjangan digital di kawasan tersebut.
ADB telah mengambil langkah tegas untuk memberikan respons krisis bagi para anggotanya di tengah konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah, sehingga menjadi mitra pembangunan pertama yang menawarkan dukungan keuangan bagi negara-negara yang terdampak, yang diperkirakan akan menghadapi tekanan ekonomi yang semakin meningkat.
(Kunthi fahmar sandy)