ECONOMICS

AHY Tegaskan Proyek Giant Sea Wall Tetap Dibangun Demi Lindungi Pantura dan Ekonomi Daerah

Rohman Wibowo 09/02/2026 14:53 WIB

AHY menekankan proyek Giant Sea Wall menjadi satu di antara infrastruktur pendongkrak ekonomi dan dapat melindungi wilayah Pantura Jawa.

AHY Tegaskan Proyek Giant Sea Wall Tetap Dibangun Demi Lindungi Pantura dan Ekonomi Daerah. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menekankan setiap kebijakan yang ditujukan memacu pertumbuhan ekonomi mesti didukung pembangunan infrastruktur memadai. Salah satunya melalui Proyek Giant Sea Wall (GSW).

Proyek tersebut digadang-gadang menjadi satu di antara infrastruktur pendongkrak menjaga kepentingan perekonomian. Sehingga pembangunan tanggul laut raksasa yang menyasar sejumlah daerah rentan bencana di Pulau Jawa itu perlu dilakukan.

AHY beralasan proyek GSW mampu memperkuat infrastruktur yang melindungi daerah rawan, pabrik-pabrik yang menjadi tumpuan hidup terus bisa beroperasi, hingga sawah-sawah yang ada di wilayah Pantai Utara Jawa (Pantura).

"Ini (proyek GSW) sebuah project yang sangat besar ya. Bicara melindungi Pantura Jawa dari Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur, ratusan kilometer. Kami juga harus pastikan bukan hanya membangun infrastruktur fisiknya, karena ini berkaitan dengan manusia, dengan masyarakat, dengan ekonomi yang ada di daerah," kata AHY di kantor Kemenko IPK, Jakarta, Senin (9/2/2026).

Ke depan, kata AHY, setiap lembaga/kementerian hingga keterlibatan akademisi bakal merumuskan proyek GSW sampai terealisasi. Sejumlah studi kelayakan mulai dilakoni dan koordinasi di bawah Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa terus digencarkan.

"Kami akan terus mengawal, membantu beliau mengawal sampai dengan bukan hanya berhenti di rencana tapi juga dieksekusi, karena ini membutuhkan anggaran yang juga sangat besar," tuturnya.

Dia juga menekankan soal penguatan infrastruktur dengan pembangunan proyek seperti GSW ini menjadi bagian mengatur tata ruang kewilayahan, selain fungsi utamanya memproteksi ruang hidup.

"Selain terus melakukan inovasi yang berkelanjutan, termasuk proteksi Pantura Jawa dan daerah-daerah lain dari berbagai bencana alam, kita juga harus pastikan tata ruang tidak bisa diabaikan," tutur AHY.

Terkini, proyek pembangunan GSW di Jakarta ditargetkan groundbreaking (peletakan batu pertama) pada September 2026. Menurut kajian Kemenko IPK, tanggul laut raksasa itu membutuhkan anggaran Rp 123 triliun.

(Febrina Ratna Iskana)

SHARE