Bandingkan dengan Malaysia, Wamenperin Nilai Hilirisasi Industri Sawit RI Mandek
Kemenperin menyoroti laju hilirisasi industri kelapa sawit nasional yang dinilai mandek, terutama dalam penciptaan produk turunan bernilai tambah tinggi.
IDXChannel - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyoroti laju hilirisasi industri kelapa sawit nasional yang dinilai mandek, terutama dalam penciptaan produk turunan bernilai tambah tinggi di luar sektor bahan bakar nabati.
Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menilai ketertinggalan struktur hilirisasi domestik terlihat nyata saat disandingkan dengan efisiensi industri di negara produsen pesaing.
"Hilirisasi sawit ini kelihatannya agak mandek, padahal produktivitas Malaysia jauh lebih efisien dan tinggi dibandingkan kita yang berstatus produsen nomor satu di dunia," ujar Faisol saat ditemui di acara Rapat Koordinasi Nasional Kadin, di Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Sorotan pemerintah tersebut sejalan dengan dinamika industri sawit nasional dalam empat tahun terakhir. Mengacu pada data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan minyak inti sawit (palm kernel oil/PKO) nasional cenderung stagnan di rentang 50 juta hingga 54 juta ton per tahun sepanjang periode 2022-2025.
Di sisi lain, volume ekspor produk olahan mentah menghadapi tekanan regulasi deforestasi global seperti European Union Deforestation Regulation (EUDR) serta hambatan teknis pengapalan produk bioenergi dan bioetanol ke pasar mancanegara, kendati upaya promosi dagang terus digulirkan.
Faisol mengatakan Kemenperin memandang hilirisasi sawit dalam negeri selama ini terlalu terkonsentrasi pada program mandatori bahan bakar nabati, sementara diversifikasi ke sektor oleokimia khusus masih bergerak lambat.
"Potensi perluasan sawit itu luar biasa karena kita memerlukan gliserin, surfaktan, hingga karoten, tetapi setelah bertahun-tahun kita baru menyaksikan lompatan program B50 sekarang," kata dia.
Menurut Faisol, Indonesia semestinya mampu melompat lebih jauh ke segmen industri kimia, farmasi, dan kosmetik global dengan mengolah produk turunan seperti surfaktan dan gliserin murni secara massal di dalam negeri.
Selama ini, sebagian besar CPO masih terserap untuk kebutuhan pangan dan bauran energi domestik, padahal struktur industri manufaktur membutuhkan bahan baku kimia bernutrisi tinggi dari ekstrak kelapa sawit.
Pemerintah, kata dia, menegaskan bahwa penguatan rantai pasok hilir menuntut komitmen investasi terpadu antara regulator dan para pelaku usaha swasta.
"Jika hilirisasi ini dijadikan agenda prioritas bersama pihak swasta seperti Kadin, kita bisa sukses mencapainya karena seluruh bahan mentah sudah tersedia di Tanah Air," ungkap Faisol. (Febrina Ratna Iskana)