ECONOMICS

BPS Catat Emas Perhiasan Deflasi Tiga Bulan Berturut-turut

Desi Angriani 02/06/2026 14:41 WIB

BPS mencatat komoditas emas perhiasan menyumbang andil deflasi sebesar 0,05 persen terhadap komponen inflasi umum,

BPS Catat Emas Perhiasan Deflasi Tiga Bulan Berturut-turut (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat komoditas emas perhiasan menyumbang andil deflasi sebesar 0,05 persen terhadap komponen inflasi umum, dengan total nilai deflasi kelompok mencapai 0,74 persen.

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini mengonfirmasi peran kelompok pengeluaran tersebut sebagai penyeimbang laju indeks harga konsumen pada Mei 2026.

"Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya pada Mei ini mengalami deflasi atau meredam inflasi," kata Pudji dalam konferensi pers Rilis BPS, Selasa (2/6/2026).

Pudji menjelaskan, emas perhiasan bertindak sebagai motor utama yang menarik kelompok pengeluaran ini ke zona deflasi dengan mencatatkan koreksi harga sebesar minus 2,67 persen pada Mei 2026.

Tren penurunan harga ini sekaligus melanjutkan fase deflasi yang sudah terjadi pada bulan Maret sebesar 1,17 persen serta April sebesar 3,76 persen.

"Emas perhiasan mengalami deflasi sebesar 2,67 persen dengan andil deflasi sebesar 0,06 persen. Komoditas ini telah mengalami deflasi 3 bulan berturut-turut sejak Maret 2026," ujar Pudji.

Di saat sektor perawatan pribadi mengalami penurunan harga, sejumlah kelompok pengeluaran lain justru terpantau masih mencatatkan inflasi pada Mei 2026.

Kenaikan harga tertinggi dibukukan oleh kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 0,39 persen dengan sumbangan andil sebesar 0,12 persen.

Mengekor di posisi kedua sebagai pendorong inflasi terbesar adalah kelompok pengeluaran transportasi yang laju inflasinya mencapai 0,61 persen serta memberikan andil sebesar 0,07 persen.

Selanjutnya, kelompok pengeluaran informasi, komunikasi, dan jasa keuangan juga ikut merangkak naik dengan tingkat inflasi sebesar 0,4 persen dan menyumbang andil 0,03 persen terhadap IHK.

Secara akumulatif, seluruh pergerakan harga pada kelompok pengeluaran masyarakat tersebut membentuk angka inflasi umum sebesar 0,28 persen secara bulanan (month-to-month) pada Mei 2026.

Dengan capaian tersebut, tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Mei 2026) kini berada di level 1,35 persen, sementara rapor inflasi tahun ke tahun (year-on-year) bertengger di angka 3,08 persen.

(DESI ANGRIANI)

SHARE