DEN: Pemulihan Sistem Kelistrikan Sumatera Harus Dilakukan Penuh Kehati-hatian
Proses pemulihan sistem kelistrikan Sumatera pascagangguan transmisi interkoneksi dinilai memang perlu dilakukan secara bertahap dan penuh kehati-hatian.
IDXChannel — Proses pemulihan sistem kelistrikan Sumatera pascagangguan transmisi interkoneksi dinilai memang perlu dilakukan secara bertahap dan penuh kehati-hatian. Hal ini bertujuan untuk menjaga stabilitas sistem tenaga listrik hingga pasokan kembali normal.
Dengan cakupan interkoneksi yang membentang ribuan kilometer serta melibatkan banyak pembangkit dan jaringan transmisi, pemulihan yang berlangsung dalam waktu relatif cepat dinilai menunjukkan penanganan yang cukup baik.
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) M Kholid Syeirazi menilai pemulihan sistem interkoneksi berskala besar tidak dapat dilakukan secara instan. Sebab, seluruh komponen sistem harus kembali tersinkronisasi secara stabil.
“Pemulihan sistem kelistrikan skala besar memang harus dilakukan penuh kehati-hatian. Yang dikejar bukan sekadar cepat menyala, tetapi memastikan sistem kembali normal secara aman dan andal,” ujar Kholid di Jakarta, Selasa (26/5/2026).
Dalam sistem interkoneksi, kata dia, kestabilan frekuensi menjadi indikator utama keseimbangan antara daya pembangkitan dan beban pelanggan. Ketika terjadi gangguan besar dan sejumlah pembangkit lepas dari sistem, frekuensi dapat turun drastis dan memicu efek domino pada jaringan kelistrikan.
“Kalau recovery dilakukan terlalu cepat tanpa sinkronisasi yang tepat, risikonya frekuensi kembali turun dan memicu pembangkit lepas lagi dari sistem. Itu yang harus dihindari,” katanya.
Karena itu, proses pemulihan dilakukan secara bertahap dan terukur agar sinkronisasi antar pembangkit tetap terjaga, baik dari sisi frekuensi, tegangan, maupun sudut fasa sistem.
Menurutnya, ketidakseimbangan antara pasokan dan beban akibat recovery yang terlalu agresif dapat memicu blackout susulan maupun gangguan pada peralatan pembangkit dan transmisi.
“Dalam sistem interkoneksi sebesar Sumatera, stabilitas sistem menjadi prioritas utama. Recovery bertahap justru diperlukan agar sistem benar-benar pulih secara aman,” katanya.
Kholid menambahkan, pembangkit thermal seperti PLTU membutuhkan waktu lebih panjang dalam proses pemulihan karena harus melewati tahapan teknis mulai dari pemanasan boiler, pembentukan tekanan uap, sinkronisasi frekuensi, hingga stabilisasi beban sebelum dapat beroperasi penuh.
“PLTU memang tidak bisa serentak masuk kembali ke sistem. Ada tahapan teknis yang harus dijalankan agar unit pembangkit tetap aman dan tidak mengalami gangguan saat sinkronisasi,” ujarnya.
Dia menilai proses pemulihan yang dilakukan hingga sistem kelistrikan Sumatera kembali normal menunjukkan penanganan dilakukan secara terukur pada sistem interkoneksi berskala besar.
“Dalam penanganan gangguan sistem interkoneksi, kehati-hatian dan tahapan recovery yang terukur menjadi faktor utama agar pemulihan berjalan stabil dan tidak memicu blackout susulan. Saya melihat proses pemulihan yang dilakukan sudah cukup baik sehingga sistem bisa kembali normal dengan aman,” kata Kholid.
(Dhera Arizona)