Deretan Negara Paling Banyak Didanai AS, Siapa Juaranya?
Sejumlah negara tercatat menjadi negara yang paling banyak dibantu oleh Amerika Serikat (AS).
IDXChannel - Sejumlah negara tercatat menjadi negara yang paling banyak dibantu oleh Amerika Serikat (AS). Israel menjadi salah satu negara yang mendapatkan bantuan keuangan jumbo dari negeri Paman Sam.
Mengutip Visual Capitalists, sejak akhir Perang Dunia II, AS telah menyalurkan lebih dari USD3,75 triliun bantuan luar negeri (angka yang sudah disesuaikan dengan inflasi). Jika menggunakan kurs dolar saat ini, maka jumlah tersebut setara Rp58.886 triliun (kurs Rp15.703 per USD).
Tahun-tahun pascaperang merupakan puncak bantuan luar negeri AS, terutama karena adanya inisiatif Marshall Plan. Inisiatif ini bertujuan untuk membantu memulihkan infrastruktur ekonomi Eropa pasca perang.
Pada puncaknya sekitar tahun 1949, bantuan luar negeri AS berjumlah hampir USD100 miliar.
Israel sejauh ini merupakan penerima kumulatif terbesar bantuan luar negeri AS. Sejak tahun 1940-an, Israel telah menerima lebih dari USD300 miliar, dengan sebagian besar dalam bentuk dukungan militer. (Lihat grafik di bawah ini.)
Bantuan dari negeri Paman Sam telah membantu negara tersebut dalam mengembangkan sistem pertahanan rudal dan proyek lainnya.
Alasan utama bantuan luar negeri ini terutama adalah untuk menjamin kepentingan AS di wilayah Timur Tengah. Kondisi ini mengingat kedekatan Israel dengan Suriah di wilayah timur laut, Lebanon yang dipengaruhi Hizbullah di utara, dan pemberontakan Islam di Sinai Mesir di selatan.
Vietnam adalah penerima dukungan keuangan terbesar kedua oleh Washington. Pendanaan dari AS ini digunakan untuk kerja sama ekonomi dan teknologi, dukungan militer, dan bahkan untuk membantu upaya pembersihan dari penggunaan Agen Oranye oleh militer AS di Vietnam selama perang.
AS diketahui terlibat dalam perang Vietnam selama dua dekade di era Perang Dingin di mana perang ini merenggut jutaan nyawa orang Vietnam dan sekitar 58 ribu pasukan Amerika.
Washington juga mengirimkan paket bantuan dalam jumlah besar ke Vietnam Selatan, Korea Selatan, dan negara-negara lain selama Perang Dingin.
Sementara di urutan ke tiga, sejak 1975 Mesir telah menjadi penerima bantuan luar negeri dalam jumlah besar dari AS, terutama sebagai bagian dari upaya diplomatik untuk mengurangi ketegangan dalam konteks Arab-Israel.
Sejak tahun 2003, sebagian besar pendanaan Washington telah disalurkan ke Irak, Afghanistan, dan Pakistan.
Update Perang Israel-Palestina
Sebagai informasi, saat ini perang tengah berkecamuk antara Israel dan kelompok militan Hamas di Palestina yang telah merenggut ribuan nyawa.
Mengutip Anadolu Agency, jumlah pengungsi di Gaza saat ini telah melebihi 338 ribu, berdasarkan data UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs.
Dalam peperangan ini juga dilaporkan setidaknya 1.300 warga Israel telah tewas dalam serangan Hamas menurut pihak berwenang Israel.
Kementerian Kesehatan Israel pada Rabu (11/10/2023) mengumumkan bahwa 3.268 warga Israel yang terluka telah dirawat di rumah sakit sejak konflik dimulai. Selain itu, setidaknya 220 tentara Israel tewas, kata tentara.
International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC) juga mengonfirmasi bahwa lima stafnya tewas dalam permusuhan bersenjata di Israel dan Gaza.
Dala konflik ini, AS dilaporkan sedang melakukan pembicaraan aktif dengan Israel dan Mesir untuk membangun “lintasan aman” bagi warga sipil di Gaza.
Mesir menyatakan pihaknya berkeinginan untuk tetap membuka penyeberangan Rafah dengan Jalur Gaza untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan ke wilayah tersebut. Presiden AS dan UEA membahas konflik Israel-Palestina sementara Biden mengutuk ‘teror’ Hamas.
Di lain pihak, Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi dan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres berbicara melalui telepon mengenai upaya yang bertujuan memulihkan ketenangan di Gaza.
Sementara presiden Iran Ebrahim Raisi dan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman membahas situasi di Palestina dalam panggilan telepon pertama mereka sejak hubungan kedua negara kembali dipulihkan.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga mengatakan kepada Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman melalui panggilan telepon bahwa mengebom pemukiman sipil merupakan tindakan yang tidak dapat diterima.
Ketua NATO Jens Stoltenberg pada Rabu juga mengatakan Israel mempunyai hak untuk membela diri namun menambahkan bahwa tanggapan apa pun diharapkan bersifat proporsional.
(YNA)