ECONOMICS

Ekonomi Dunia Diramal Gelap Gulita pada 2023, Sri Mulyani Ungkap Tanda-tandanya 

Michelle Natalia 06/08/2023 09:40 WIB

Ramalan tentang ekonomi dunia menjadi gelap pada tahun ini kembali heboh.

Ekonomi dunia diramal gelap gulita pada 2023, Sri Mulyani ungkap tanda-tandanya 

IDXchannel - Dana Moneter Internasional (IMF) sempat meramal ekonomi dunia akan gelap gulita pada tahun ini. Ramalan tersebut kembali dibahas Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati dalam acara Penyerahan Insentif Fiskal beberapa waktu lalu.

"Di 2023 ini ekonomi dunia gelap gulita karena pertumbuhannya diprediksi hanya 2,1%, turun drastis dari pertumbuhan tahun sebelumnya yang 6,3%," kata Sri Mulyani saat itu. 

Karena prediksi pertumbuhan ekonomi ini, maka diperkirakan banyak negara juga akan mengalami resesi. Bahkan, perdagangan dunia pada 2023 juga sedang berada dalam titik terendah. 

"Namun kalau kita lihat, pertumbuhan perdagangan dunia ini at the lowest point, paling rendah hanya 2,0%. Tahun 2021, pertumbuhan perdagangan global mencapai 10,7%," ujarnya.

Dia mengatakan, jika dunia tidak saling berdagang, pasti ada bagian dunia yang membutuhkan barang atau jasa tapi tidak mendapatkannya. Hal tersebut kemudian akan mendorong harga-harga menjadi naik.

Inilah yang kemudian menjadi alasan disrupsi yang terjadi baik dari sisi suplai maupun perdagangan. Selain itu, juga dari sisi distribusi akan sangat menentukan inflasi.

"Inflasi tertinggi terjadi di tahun 2022, seluruh dunia mengalami kenaikan yang sangat tinggi, inflasinya di 8,7% dari yang tadinya 0%, atau mendekati 0," tutur dia.

"Negara maju, bahkan beberapa di antaranya mengalami deflasi, namun kemudian melonjak menjadi 7,3%," imbuhnya.

Hal ini menggerus daya beli, dan berdampak pada permintaan yang menurun. Kegiatan produksi pun, kata dia, juga akan mulai menurun. 

Adapun indikator PMI Manufaktur pada Juni 2023, mayoritas sebesar 61,9% dari negara G20 dan ASEAN-6 mengalami kontraksi, di antaranya adalah AS, Eropa, Jerman, Prancis, Inggris, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Vietnam, Italia, Brazil, Afrika Selatan, dan Singapura.

Sebanyak 23,8% yang ekspansinya melambat, antara lain China, Thailand, Filipina, India, dan Rusia. Kemudian hanya 14,3% yang mengalami ekspansi dan akselerasi, yaitu Indonesia, Turki, dan Meksiko.

"Ini yang kontraksi negara-negara besar, bahkan negara tetangga kita Malaysia dan Vietnam juga kontraktif, ini yang menggambarkan bahwa dampak pelemahan ekonomi global akibat termasuk salah satunya inflasi yang menggerus daya beli itu sangat besar," tuturnya.

(RNA)

SHARE