ECONOMICS

Ekonomi Global di Ambang Krisis, DPR Dorong Pemerintah Pastikan Keamanan Pangan

Achmad Al Fiqri 30/03/2026 01:00 WIB

Dalam rangka memastikan pangan di Indonesia aman, Riyono menyampaikan tiga poin strategis guna mewujudkan hal tersebut. 

Ekonomi Global di Ambang Krisis, DPR Dorong Pemerintah Pastikan Keamanan Pangan. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Anggota Komisi IV DPR RI, Riyono, mendorong pemerintah untuk fokus menyediakan pangan sebagai fondasi utama kedaulatan. Dorongan dilayangkan untuk menghadapi kondisi global saat ini yang cenderung menuju krisis.

Dalam rangka memastikan pangan di Indonesia aman, Riyono menyampaikan tiga poin strategis guna mewujudkan hal tersebut. 

"Menghadapi kondisi global saat ini yang cenderung menuju krisis, maka Indonesia harus memfokuskan ketersediaan pangan sebagai fondasi utama kedaulatan pangan," ujar Riyono dalam keterangannya, Minggu (29/3/2026).

Pertama, perlunya menjaga cadangan beras nasional. 

"Cadangan pangan berupa beras yang sudah tembus 4 juta ton harus dijaga kualitas dan manajemen pengelolaannya," ujar dia.

Selain itu, dia menilai perlu diberikan perlindungan kepada petani sebagai produsen pangan utama dengan skema insentif harga produk pertanian yang baik.

"Harga GKP dan jagung yang sudah baik harus tetap dipertahankan, kalau perlu ditambah dengan asuransi hasil pertanian karena menghadapi risiko kemarau panjang," tutur Riyono.

Di sisi lain, Riyono menilai, menjaga politik anggaran sektor pertanian dan perikanan agar tidak dikenakan efisiensi. Dia menegaskan anggaran pertanian sebesar Rp60 triliun jangan sampai dipangkas.

"Hal ini dikarenakan ketahanan pangan dan protein ada di sektor ini. Jika diperlukan, maka anggarannya harus ditambah untuk mengantisipasi krisis pangan dunia," ucapnya.

Lebih lanjut, Riyono menilai program MDGs gagal mengatasi kelaparan pangan global. Ada satu miliar penduduk bumi yang terancam kelaparan dan bahkan banyak kematian karena kelaparan global.

Target SDGs ke-2 pada 2030, yaitu mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan perbaikan gizi, serta mendorong pertanian berkelanjutan, tampaknya akan terancam gagal untuk kali kedua karena perubahan ekstrem peta pangan global.

“Artinya dunia gagal mengatur perputaran pangan global. Adanya perang Iran, Amerika Serikat, dan Israel membuat semakin tinggi ketidakpastian global sehingga negara produsen pangan berprinsip menahan pangan untuk mereka sendiri,” kata dia.

Menurut Riyono, kegagalan global dalam distribusi pangan mengakibatkan harga pangan dunia naik, ketersediaan menurun, dan permintaan tinggi. Komoditas pangan berubah menjadi komoditas politik yang sering merugikan petani.

“Pangan dan energi sebagai instrumen dasar manusia berubah menjadi senjata mematikan untuk menguasai bahkan ‘menjajah’ suatu negara atas nama impor, sedangkan produsen utamanya, yaitu petani dan negaranya, masih tetap miskin dan menderita,” ujar dia.


(NIA DEVIYANA)

SHARE