ECONOMICS

Ekonomi Indonesia Diproyeksi Tumbuh 5,23 Persen di Kuartal IV-2025

Anggie Ariesta 03/02/2026 16:47 WIB

Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal IV 2025 diproyeksi tumbuh sebesar 5,23 persen secara tahunan (year-on-year).

Ekonomi Indonesia Diproyeksi Tumbuh 5,23 Persen di Kuartal IV-2025 (FOTO:iNews Media Group)

IDXChannel - Office of the Chief Economist Bank Mandiri memproyeksikan Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal IV 2025 akan tumbuh sebesar 5,23 persen secara tahunan (year-on-year). 

Jika angka ini terealisasi, maka pertumbuhan tersebut menjadi yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

Secara kumulatif, ekonomi Indonesia sepanjang 2025 diperkirakan mencapai 5,07 persen, melampaui capaian tahun 2024 yang berada di angka 5,03 persen. Penguatan ini didorong oleh sinergi antara agresivitas belanja pemerintah dan pemulihan sektor investasi.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2025 diperkirakan menguat signifikan, terutama ditopang oleh akselerasi belanja pemerintah dan perbaikan aktivitas investasi,” ujar Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro dalam keterangannya, Selasa (3/2/2026).

Sektor fiskal menjadi katalisator terpenting di akhir tahun. Belanja pemerintah melonjak tajam hingga 8,0 persen, dipicu oleh kenaikan belanja pegawai serta belanja modal yang masing-masing tumbuh di atas 40 persen. Selain itu, alokasi bantuan sosial yang naik 70,4 persen turut menjaga stabilitas ekonomi di tingkat akar rumput.

“Kami melihat belanja fiskal yang meningkat tajam di akhir tahun menjadi faktor kunci yang mendorong pertumbuhan ekonomi mencapai level tertinggi sejak 2022,” kata Andry.

Pemerintah juga tercatat mengguyur stimulus fiskal sebesar Rp37,4 triliun yang mencakup bantuan langsung tunai (BLT), diskon libur akhir tahun, hingga program magang guna menjaga daya beli masyarakat.

Selain belanja negara, sektor investasi menunjukkan taringnya dengan proyeksi pertumbuhan 6,3 persen. Hal ini terkonfirmasi dari melonjaknya impor barang modal sebesar 22,9 persen dan pulihnya sektor konstruksi yang terlihat dari pertumbuhan penjualan semen.

“Dari sisi investasi, lonjakan impor barang modal dan mulai pulihnya sektor konstruksi menjadi sinyal positif menguatnya pembentukan modal tetap bruto,” kata Andry.

Di sisi lain, konsumsi rumah tangga tetap menjadi tulang punggung dengan pertumbuhan 5,0 persen, didukung oleh maraknya aktivitas ritel dan mobilitas masyarakat selama masa liburan.

“Konsumsi rumah tangga tetap terjaga dengan baik, didukung oleh stimulus pemerintah serta peningkatan aktivitas ritel selama periode libur akhir tahun,” tuturnya.

Meskipun permintaan domestik sangat kuat, kinerja ekspor diperkirakan mengalami sedikit perlambatan menjadi 4,2 persen. Sementara itu, impor justru tumbuh lebih tinggi (7,2 persen), yang menurut Andry justru menandakan geliat aktivitas ekonomi di dalam negeri yang masih "haus" akan input produksi.

“Meski kinerja sektor eksternal cenderung melambat, peningkatan impor mencerminkan kuatnya permintaan domestik dan aktivitas ekonomi di dalam negeri,” katanya.

(kunthi fahmar sandy)

SHARE