ECONOMICS

Ekonomi Negara Teluk Diprediksi Kontraksi hingga 14 Persen Imbas Perang Iran-AS

Wahyu Dwi Anggoro 17/03/2026 06:50 WIB

Perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel diprediksi memberikan pukulan signifikan terhadap perekonomian negara-negara Teluk.

Ekonomi Negara Teluk Diprediksi Kontraksi hingga 14 Persen Imbas Perang Iran-AS. (Foto: Inews Media Group)

IDXChannel - Perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel diprediksi memberikan pukulan signifikan terhadap perekonomian negara-negara Teluk.

Menurut ekonom Goldman Sachs Farouk Soussa, ekonomi Qatar dan Kuwait masing-masing dapat mengalami kontraksi sebesar 14 persen tahun ini jika konflik berlanjut hingga April.

Perang ini mengakibatkan terhentinya lalu lintas di Selat Hormuz, jalur laut penting bagi ekspor minyak kedua negara.

Itu akan menjadi kontraksi ekonomi terburuk bagi kedua negara tersebut sejak awal 1990-an, ketika invasi Irak ke Kuwait memicu Perang Teluk dan menimbulkan gejolak di pasar minyak global.

Dampaknya terhadap ekonomi Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) akan lebih kecil mengingat kemampuan mereka untuk mengalihkan aliran minyak dari Selat Hormuz.

Namun, keduanya diprediksi tetap mengalami penurunan produk domestik bruto (PDB) sekitar 3-5 persen, terburuk sejak pandemi.

“Bagi banyak negara Teluk, perang ini dapat memiliki dampak jangka pendek yang lebih besar daripada Covid,” kata Soussa, dilansir dari Bloomberg pada Senin (16/3/2026).

Konflik tersebut menunjukkan sedikit tanda mereda pada minggu ketiga, dengan Iran terus menyerang negara-negara tetangga di seluruh wilayah sebagai pembalasan atas pemboman AS dan Israel. 

Baru-baru ini, Bandara Internasional Dubai untuk sementara menangguhkan penerbangan setelah insiden drone yang menyebabkan kebakaran, sementara Arab Saudi mencegat lebih dari selusin drone dalam semalam.

AS menyerang situs-situs militer di pusat ekspor minyak mentah Iran di Pulau Kharg selama akhir pekan dan memperingatkan akan menargetkan fasilitas energi jika Teheran terus mengganggu lalu lintas di Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima ekspor minyak dunia. (Wahyu Dwi Anggoro)

SHARE