Elnusa (ELSA) Tuntaskan Proyek Seismik PHE 6.000 Km di Laut Selatan Jawa
Survei seismik sepanjang 6.000 km ini dilaksanakan oleh anak usaha ELSA, PT Elnusa Trans Samudera (ETSA).
IDXChannel - PT Elnusa Tbk (ELSA) menuntaskan pelaksanaan Survei Seismik Offshore 2D Southeast Java milik PT Pertamina Hulu Energi (PHE) di Laut Selatan Jawa.
Survei seismik sepanjang 6.000 km ini dilaksanakan oleh anak usaha ELSA, PT Elnusa Trans Samudera (ETSA) yang mencakup area laut lepas di enam kabupaten Jawa Timur, yakni Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, dan Lumajang.
Corporate Secretary PT Elnusa Tbk, Rustam Aji mengatakan, ETSA mengambil peran pada lingkup marine support dengan mengandalkan kesiapan operasional, kompetensi personel, serta pengalaman dalam mendukung kegiatan offshore di wilayah dengan tingkat kompleksitas tinggi.
"Eksplorasi menjadi salah satu fondasi penting untuk
membuka potensi sumber daya energi baru. Bagi Elnusa, meningkatnya aktivitas eksplorasi, termasuk menuju wilayah offshore dan new frontier, juga membuka peluang untuk mengoptimalkan kapabilitas yang telah kami bangun” ujar Rustam dalam keterbukaan informasi BEI, Rabu (16/9/2026).
Rustam menjelaskan, pelaksanaan survei di Laut Selatan Jawa berlangsung dalam dua fase sebagai respons terhadap tantangan alam berupa gelombang tinggi dan arus bawah laut yang kuat di Samudera Hindia.
Fase pertama dimulai pada Oktober 2025 dan dihentikan sementara pada Desember 2025 dengan mengedepankan pertimbangan keselamatan kerja. Setelah kondisi cuaca memungkinkan, kegiatan dilanjutkan pada Juli 2026 hingga diselesaikan pada 26 Agustus 2026.
Dalam mendukung rangkaian kegiatan tersebut, ETSA menjalankan lingkup marine support selama 120 hari dengan capaian Zero Lost Time Injury (LTI), mencerminkan konsistensi penerapan HSSE dan operational excellence dalam mendukung operasi di lingkungan laut terbuka yang kompleks.
Meski berada pada kawasan fore-arc basin yang selama ini dinilai memiliki tantangan eksplorasi tersendiri, area Trenggalek–Pacitan dinilai memiliki potensi akumulasi hidrokarbon yang perlu dievaluasi lebih lanjut.
Dalam pelaksanaannya, survei menerapkan teknologi akuisisi 2D Marine Streamer Broadband untuk menghasilkan pencitraan geometri bawah permukaan yang lebih akurat, khususnya pada target eksplorasi kedalaman tinggi (deep target).
“Ke depan, perseroan akan terus memperkuat daya saing Marine & Offshore Support Services secara selektif dan prudent. Setiap pengembangan kapabilitas dan investasi harus memiliki relevansi terhadap kebutuhan pelanggan, meningkatkan produktivitas dan utilisasi aset, serta memberikan potensi return yang sehat bagi perseroan," tutur dia.
(DESI ANGRIANI)