ECONOMICS

Eropa dan Asia Genjot Impor Batu Bara untuk Gantikan Gas Alam Timteng

Wahyu Dwi Anggoro 17/05/2026 11:32 WIB

Pengiriman batu bara global melonjak pada Maret dan April di tengah gejolak energi dunia.

Eropa dan Asia Genjot Impor Batu Bara untuk Gantikan Gas Alam Timteng. (Foto: Inews Media Group)

IDXChannel - Pengiriman batu bara global melonjak pada Maret dan April di tengah gejolak energi dunia.

Dilansir dari OilPrice pada Minggu (17/5/2026), para pembeli berebut bahan bakar fosil tersebut di tengah gangguan besar pasokan minyak dan gas dari Timur Tengah.

Tren ini semakin meningkat dalam beberapa minggu terakhir. Pengiriman batu bara global diperkirakan mencapai level bulanan tertinggi ketiga dalam sejarah bulan ini, menurut perkiraan platform analitik Kpler yang dikutip oleh the Financial Times.

Setelah gangguan pasokan minyak dan gas terburuk dalam sejarah, batu bara kembali diminati. Bahkan negara yang sebelumnya percaya bahwa penggunaan batubara akan mengalami penurunan permanen pun meningkatkan impor.

Sebagai contoh, bulan lalu pengiriman batu bara ke Korea Selatan, Jepang, dan Uni Eropa melonjak 27 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menurut data dari asosiasi pemilik kapal BIMCO.

Para importir Asia dan blok Eropa sedang berebut alternatif pasokan gas alam dari Timur Tengah, yang saat ini terperangkap di Teluk akibat lumpuhnya pelayaran di Selat Hormuz.

Qatar, salah satu produsen LNG terbesar juga menghentikan produksi sejak 2 Maret. Kompleks LNG terbesar di dunia, Ras Laffan, mengalami kerusakan akibat serangan rudal.

"Penutupan Selat Hormuz telah mengganggu pengiriman LNG dari Teluk Persia dan telah berkontribusi pada penurunan 8 persen year-on-year dalam pengiriman LNG global melalui laut pada April," kata BIMCO.

Korea Selatan telah menunda penonaktifan pembangkit listrik tenaga batu bara di tengah guncangan minyak dan gas yang disebabkan oleh perang di Timur Tengah.

Para analis di Wood Mackenzie mengatakan bahwa kekhawatiran tentang keamanan energi menggeser respons kebijakan, mempercepat penggunaan batu bara di pasar-pasar utama Asia dan Eropa, dan menunda penutupan pembangkit listrik tenaga batu bara. (Wahyu Dwi Anggoro)

SHARE