ECONOMICS

Gejolak Geopolitik Mengancam, Ekonomi RI Diproyeksi Tetap Tumbuh 5 Persen

Suparjo Ramalan 05/02/2024 18:08 WIB

Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia konsisten di level 5 persen hingga 2025 di tengah gejolak geopolitik yang mengancam.

Gejolak Geopolitik Mengancam, Ekonomi RI Diproyeksi Tetap Tumbuh 5 Persen (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia konsisten di level 5 persen hingga 2025 di tengah gejolak geopolitik yang mengancam. Sepanjang 2024 pun, ekonomi RI diprediksi tumbuh 5 persen.

Selama 2023 ekonomi Indonesia tumbuh 5,05 persen. Sementara, di kuartal IV tahun lalu tumbuh 5,04 persen. Pertumbuhan makro ekonomi nasional ini berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto mengatakan, berbagai lembaga dunia memperkirakan ekonomi Indonesia konsisten tumbuh di posisi 5 persen hingga 2025 mendatang.

Misalnya, International Monetary Fund (IMF) memprediksi ekonomi nasional tumbuh 5 persen, Bank Dunia atau World Bank antara 4,9-5 persen, dan Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) di level 5,2 persen.

“Kita lihat dengan proyeksi yang ada pertumbuhan ekonomi Indonesia itu berbagai lembaga memprediksi pertumbuhan Indonesia sampai dengan tahun 2025, seperti IMF masih memprediksi kita di angka 5 persen, kemudian World Bank antara 4,9 sampai dengan 5 persen dan OECD di angka 5,2 persen,” ujar Airlangga saat konferensi pers, Senin (5/2/2024). 

Menurutnya, perkiraan tersebut jauh di atas rata-rata proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia. Bahkan, Emerging Market Economy (EME) atau negara dengan tingkat pendapatan per kapita rendah menuju ke level menengah, seperti Tiongkok. 

“Pertumbuhan ekonomi emerging market seperti Tiongkok, oleh karena itu kebijakan berkelanjutan yang diambil adalah menjadi kunci dari pertumbuhan perekonomian ke depan,” paparnya. 

Pemerintah, lanjut dia, yakin makro ekonomi nasional tetap tumbuh positif atau stabil di tahun-tahun mendatang, meski geopolitik global tetap berkecamuk. Airlangga menyebut pemerintah menyadari ada resiko-resiko ke depan.

Misalnya, tensi geopolitik imbas perang Rusia-Ukraina Hamas-Israel. Kemudian, pelemahan ekonomi Tiongkok lantaran harga komoditas masih berfluktuasi, negara-negara maju masih melakukan pengetatan moneter, tingkat suku bunga yang tinggi untuk masa yang lebih panjang, hingga fragmentasi ekonomi serta perubahan iklim.

“Nah, kita melihat strategi besar kita ke depan ini ada beberapa hal yang harus kita jaga, satu tentu menjaga stabilitas makro, kerja sama antara sektor fiskal dan moneter yang baik, dan juga harmonis dengan sektor riil, termasuk untuk pengendalian harga menghadapi hari-hari besar nasional, perbaikan iklim investasi yang harus terus dijaga, sekaligus juga untuk peningkatan ekspor,” jelas dia.

(DES)

SHARE