ECONOMICS

Gelombang Peringatan dari Moody’s, S&P, dan Fitch untuk Ekonomi Indonesia

TIM RISET IDX CHANNEL 05/03/2026 06:55 WIB

Lembaga pemeringkat kredit global, Fitch Ratings, resmi memangkas outlook Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil pada Rabu (4/3/2026).

Gelombang Peringatan dari Moody’s, S&P, dan Fitch untuk Ekonomi Indonesia. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Lembaga pemeringkat kredit global, Fitch Ratings, resmi memangkas outlook Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil pada Rabu (4/3/2026), menambah deretan kekhawatiran terkait ketidakpastian kebijakan domestik.

Meski Fitch menilai kebijakan yang prudent, seperti kepatuhan terhadap batas defisit fiskal, masih berlanjut, lembaga itu memperingatkan bahwa dorongan lebih kuat untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi ambisius 8 persen serta memperluas belanja sosial dapat mengarah pada pelonggaran fiskal dan moneter yang berisiko mengganggu stabilitas.

Menurut catatan The Wall Street Journal, langkah ini sejalan dengan kekhawatiran lembaga pemeringkat dan penyedia indeks lainnya yang menyoroti kurangnya transparansi dan prediktabilitas dalam perumusan kebijakan sebagai risiko bagi pasar dan perekonomian secara luas.

Pasar keuangan Indonesia pun mengalami periode volatilitas, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan obligasi tertekan serta rupiah melemah seiring arus keluar dana investor.

Keputusan terbaru dari penyedia indeks FTSE Russell dan MSCI untuk menghentikan peninjauan saham Indonesia akibat isu transparansi turut memperkuat kekhawatiran lama mengenai kredibilitas kebijakan.

Presiden Prabowo Subianto membela program sosial pemerintah yang ekspansif, dengan menyatakan kebijakan tersebut akan meningkatkan produktivitas, mendorong perekonomian, dan menghemat biaya dalam jangka panjang.

Regulator pasar juga bergerak cepat merespons kekhawatiran dari penyedia indeks melalui sejumlah proposal reformasi.

Dalam laporan bulan lalu, S&P Global Ratings menyatakan otoritas diyakini tengah berupaya mengatasi persoalan yang memicu arus keluar portofolio asing, serta menilai dampak terhadap kepercayaan investor masih dapat dipulihkan.

S&P mempertahankan outlook stabil atas peringkat BBB Indonesia dan menyebut volatilitas pasar belakangan ini masih berdampak terbatas terhadap metrik kredit pemerintah.

Namun, lembaga itu memperingatkan bahwa kegagalan memulihkan kepercayaan investor dapat meningkatkan biaya pembiayaan dan menekan investasi.

“Pelemahan lebih lanjut yang bersumber dari volatilitas pasar saham dapat meningkatkan kemungkinan aksi pemeringkatan negatif,” ujar analis S&P, Kim Eng Tan, dikutip The Wall Street Journal.

Baik Fitch maupun Moody’s Ratings kini telah menurunkan outlook kredit Indonesia menjadi negatif dari stabil, sembari mempertahankan peringkat utang masing-masing.

Fitch Ratings menyatakan bahwa penegasan peringkat tersebut mencerminkan rekam jejak Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, prospek pertumbuhan yang solid, serta beban utang pemerintah yang relatif moderat.

Namun demikian, lembaga itu menambahkan bahwa kekuatan tersebut masih dibatasi oleh basis penerimaan fiskal yang relatif lemah, tingginya biaya layanan utang, serta indikator tata kelola yang tertinggal dibandingkan negara-negara selevel.

Pada awal Februari, Moody’s Ratings Inc. mengubah outlook peringkat Baa2 Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil, dengan alasan melemahnya tata kelola dan meningkatnya risiko fiskal di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Pernyataan Moody’s, bersama peringatan dari MSCI Inc. terkait perlunya reformasi pasar, menekan sentimen investor asing yang sebelumnya sudah lemah.

Pemerintah merespons dengan mengumumkan sejumlah reformasi dan menyatakan bahwa perekonomian mulai menunjukkan perbaikan. (Aldo Fernando)

SHARE