Gubernur BI Komitmen Bawa Rupiah Menguat, Begini Sederet Upayanya
Gubernur BI mengatakan pihaknya telah melakukan sejumlah upaya untuk mendorong rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
IDXChannel - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan pihaknya telah melakukan sejumlah upaya untuk mendorong rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan catatan bank sentral tersebut, nilai tukar rupiah pada 20 Januari 2026 mencapai Rp16.945 per dolar AS, melemah 1,53 persen (ptp) bila dibandingkan dengan level akhir Desember 2025.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, lanjut Perry, Bank Indonesia menempuh intensitas langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar NDF baik di off-shore maupun on-shore (DNDF) dan pasar spot.
Dia menilai respons kebijakan ini dapat menjaga volatilitas nilai tukar rupiah dan tetap konsisten dengan upaya pencapaian sasaran inflasi 2,5±1 persen pada 2026.
Ke depannya, Perry mengatakan, Bank Indonesia berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah termasuk melalui intervensi terukur di transaksi NDF, DNDF, dan pasar spot, serta memperkuat strategi operasi moneter pro-market.
Dia menyebut nilai tukar rupiah diprakirakan stabil dengan kecenderungan menguat didukung oleh imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, dan tetap baiknya prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia.
"Kami akan jaga stabilitas nilai tukar rupiah dan akan membawanya untuk menguat. Didukung oleh komisi fundamental ekonomi kita yang baik termasuk imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, demikian juga prospek ekonomi yang membaik," kata Perry dalam konferensi pers RDG (Rapat Dewan Gubernur) BI, Rabu (21/1/2026).
Adapun pelemahan nilai tukar tersebut dipengaruhi aliran keluar modal asing akibat meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.
Selain itu, kenaikan permintaan valas oleh perbankan dan korporasi domestik sejalan dengan kegiatan ekonomi turut mempengaruhi kinerja Rupiah.
"Ada faktor-faktor domestik, tentu saja tadi kami sampaikan aliran modal asing keluar juga karena juga ada kebutuhan valas yang besar dari sejumlah korporasi termasuk oleh Pertamina, PLN maupun juga Danantara dan juga persepsi pasar. Ini persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan juga proses pencalonan deputi gubernur," ujarnya.
Selain dari sisi domestik, faktor global mempengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah. Ketidakpastian pasar keuangan global juga meningkat terutama dipicu oleh kebijakan tarif resiprokal AS serta meluasnya eskalasi ketegangan geopolitik.
Perkembangan ini mengakibatkan peningkatan aliran modal ke emerging market (EM) tertahan dan mendorong penguatan indeks mata uang dolar AS terhadap mata uang negara maju (DXY).
(Febrina Ratna Iskana)