ECONOMICS

Industri Petrokimia Tengah Tertekan, Inaplas Beberkan Penyebabnya

Ferdi Rantung 06/05/2026 01:09 WIB

Inaplas membeberkan kondisi industri petrokimia dan produk turunannya yang sedang tertekan.

Industri Petrokimia Tengah Tertekan, Inaplas Beberkan Penyebabnya. (Foto: IMG)

IDXChannel - Asosiasi Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) membeberkan kondisi industri petrokimia dan produk turunannya yang sedang tertekan. Mulai dari ketidakstabilan geopolitik dunia, praktik dumping hingga sentimen negatif dalam negeri.

Ketua Umum Inaplas Suhat Miyarso mengatakan  selain masalah geopolitik dunia, tekanan industri terhadap industri petrokimia yang kerap dipermasalahan adalah masalah lingkungan, sehingga menimbulkan tekanan tersendiri bagi pelaku industri.

"Krisis yang terjadi saat ini terutama dipicu oleh kondisi geopolitik global yang kurang menguntungkan. Selain itu, terdapat pula faktor domestik yang turut memperburuk situasi," ujar Suhat dalam diskusi Dampak Gejolak Geopolitik Terhadap Industri Plastik di Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Meski begitu, Suhat menilai pemerintah telah memahami kondisi tersebut dan mulai mengambil langkah-langkah penanganan dengan harapan dapat meredam dampak krisis.

"Secara umum, kinerja industri pada April mengalami penurunan, yang tercermin dari penurunan PMI (Purchasing Managers' Index) sebesar satu poin hingga berada pada level kontraksi. Namun, pada Mei diharapkan kondisi tersebut tidak berlanjut, bahkan dapat kembali meningkat ke atas level 50 sehingga industri kembali berada dalam fase ekspansi" katanya. 

Sementan itu, Wakil Ketua Umum Inaplas Edi Rivai mengungkapkan sejak pandemi Covid-19 berakhir, industri petrokimia sebenarnya belum benar-benar pulih. Kondisi ini diperparah oleh fenomena overcapacity global atau kelebihan pasokan dunia, di mana produksi berlebih dari China, ASEAN, dan Timur Tengah membanjiri pasar. 

Ia menjelaskan, Indonesia yang saat ini berstatus sebagai net importir, akibatnya menjadi sasaran empuk bagi kelebihan pasokan dunia tersebut. Tercatat, industri dalam negeri mengandalkan sekitar 90 persen kebutuhan light naphtha dari luar negeri, jauh di atas rata-rata ketergantungan regional Asia yang berada di angka 60-70 persen.

Permasalahan impor bukan sekadar soal volume, melainkan juga harga. Maraknya praktik dumping dari produsen luar negeri membuat harga produk domestik sulit bersaing.

Inaplas menyatakan telah mengajukan instrumen trade remedies berupa kebijakan anti-dumping dan safeguard sejak dua tahun lalu. Namun, hingga kini, realisasi kebijakan tersebut masih belum menemui titik terang.

"Volume impor yang terus meningkat, disertai dengan harga yang rendah akibat praktik dumping, semakin memperberat daya saing industri domestik. Tanpa intervensi, tekanan ini akan terus berulang," ujar Edi.

SHARE