ECONOMICS

Inflasi DKI Jakarta pada Ramadan 2024 tetap Terkendali, Ini Faktor Pendorongnya

Nia Deviyana 01/04/2024 22:00 WIB

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Jakarta pada Ramadan 2024 tetap terkendali. Inflasi pada Maret 2024 sebesar 0,37% month to month (mtm).

Inflasi DKI Jakarta pada Ramadan 2024 tetap Terkendali, Ini Faktor Pendorongnya. Foto: MNC Media.

IDXChannel - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Jakarta pada Ramadan 2024 tetap terkendali. Inflasi pada Maret 2024 sebesar 0,37% month to month (mtm), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,45% (mtm). 

"Lebih rendahnya inflasi, terutama bersumber dari deflasi pada kelompok rekreasi, olahraga dan budaya, serta kelompok transportasi," ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Arlyana Abubakar, melalui keterangan tertulis, Senin (1/3/2024).

Di sisi lain, kelompok makanan, minuman, dan tembakau, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, serta kelompok pendidikan menjadi penyumbang inflasi Jakarta pada Maret 2024. 

Secara tahunan, Jakarta mengalami inflasi sebesar 2,18% (yoy), masih terkendali dalam sasaran 2,5±1%, meskipun sedikit meningkat dibandingkan bulan sebelumnya (2,12%, yoy). Inflasi tersebut juga lebih rendah dari Nasional (3,05%, yoy).

Kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya mengalami deflasi sebesar 0,34% (mtm), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencatat inflasi 0,09% (mtm) sejalan dengan menurunnya harga komoditas perlengkapan sekolah yaitu tas sekolah.

Sementara itu, kelompok transportasi tercatat deflasi sebesar 0,01% (mtm), juga lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencatat inflasi 0,72% (mtm). 

Deflasi pada kelompok transportasi terutama bersumber dari penurunan tarif angkutan udara sejalan dengan penurunan harga avtur dan adanya kebijakan tarif batas (TBA) jelang arus mudik Lebaran 2024. 

Sementara itu, Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 1,33% (mtm), lebih tinggi dibandingkan inflasi pada bulan sebelumnya (1,24%; mtm). 

Inflasi pada kelompok tersebut terutama didorong oleh meningkatnya harga beras, daging ayam ras, dan telur ayam ras. 

Kenaikan harga beras disebabkan oleh tingginya biaya produksi, penurunan produktivitas, dan mundurnya masa panen sebagai dampak lanjutan El Nino. 

Sementara itu, kenaikan harga daging ayam ras dan telur ayam ras didorong oleh tingginya harga pakan, meningkatnya permintaan saat Ramadan dan menjelang Idul Fitri, serta menurunnya pasokan telur ayam karena masa peremajaan (afkir) pada beberapa wilayah sentra produksi. 

Di sisi lain, penurunan harga cabai merah menjadi penahan meningkatnya inflasi pada kelompok ini seiring dengan meningkatnya pasokan di daerah sentra produksi.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mengalami inflasi sebesar 0,73% (mtm), lebih tinggi dibandingkan inflasi pada bulan sebelumnya (0,47% mtm) yang didorong oleh meningkatnya harga emas perhiasan sejalan dengan meningkatnya harga emas global. 

Kelompok pendidikan juga mengalami inflasi yang lebih tinggi dari 0,00% (mtm) menjadi 0,51% (mtm) yang didorong oleh meningkatnya tarif bimbingan belajar.

Realisasi inflasi DKI Jakarta yang masih terkendali tidak terlepas dari hasil sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi DKI Jakarta yang semakin kuat. 

Selama Maret 2024, TPID Provinsi DKI Jakarta telah melakukan berbagai kegiatan dalam rangka pengendalian inflasi, antara lain High Level Meeting TPID jelang HBKN dan Idul Fitri 2024, kegiatan pasar murah dan sembako murah, lalu kerja sama antar daerah (KAD) melalui panen padi bersama untuk mendukung penguatan pasokan beras di DKI Jakarta.

Kemudian, penguatan komunikasi dengan program Belanja Bijak melalui berbagai kanal, di antaranya dialog bersama HEBITREN serta sosialisasi secara masif melalui Iklan Layanan Masyarakat, serta Rapat Koordinasi TPID mingguan dalam rangka pemantauan stok dan harga.

Ke depan, sinergi TPID DKI Jakarta akan terus diperkuat untuk memastikan strategi 4K, yaitu Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi dan Komunikasi Efektif dapat berjalan baik dan efektif, utamanya melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). 

"Dengan berbagai upaya sinergi dan kolaborasi tersebut, inflasi Jakarta diharapkan dapat tetap terkendali dalam sasaran yang lebih rendah yaitu 2,5±1% pada 2024," pungkasnya. 

(NIA)

SHARE