ECONOMICS

Investasi Diproyeksi Tembus Rp497 Triliun di Kuartal I-2026, Serap 627 Ribu Tenaga Kerja

Anggie Ariesta 13/04/2026 14:21 WIB

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani memprediksi realisasi investasi Indonesia pada kuartal I-2026 bisa mencapai Rp497 triliun.

Investasi Diproyeksi Tembus Rp497 Triliun di Kuartal I-2026, Serap 627 Ribu Tenaga Kerja. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani, memprediksi realisasi investasi Indonesia pada kuartal I-2026 bisa mencapai Rp497 triliun.

Capaian itu diperkirakan mengalami pertumbuhan sebesar 7 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Rosan menyampaikan bahwa meski data final baru akan tersedia pada pertengahan April, tren yang ada menunjukkan sinyal positif terhadap pencapaian target pemerintah.

"Alhamdulillah memang kita masih menunggu sampai tanggal 15, tapi dengan perkembangan ini insyaallah target yang dicanangkan oleh pemerintah pada triwulan pertama ini bisa kami capai yaitu sebesar Rp497 triliun, berarti tumbuh sekitar 7 persen secara tahunan," ujar Rosan dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI, Senin (13/4/2026).

Sejalan dengan kenaikan nilai investasi, penyerapan tenaga kerja juga diproyeksikan meningkat sebesar 5,5 persen. Sebanyak kurang lebih 627.000 orang diperkirakan berhasil terserap ke dalam lapangan kerja baru berkat realisasi investasi selama tiga bulan pertama tahun ini.

Sektor hilirisasi tetap memegang peranan krusial dengan kontribusi sekitar 30 persen dari total modal yang masuk. Dari sisi asal negara, investor dari Singapura, China, Jepang, Korea Selatan, hingga Amerika Serikat masih mendominasi peta investasi di tanah air.

Pemerintah telah menetapkan target investasi nasional sepanjang 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun berdasarkan Perpres Nomor 117 Tahun 2025. Sedangkan untuk periode RPJMN 2025–2029, akumulasi investasi diharapkan mampu menyentuh angka Rp13.032,8 triliun.

Rosan menekankan bahwa posisi politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif dan non-blok menjadi daya tarik tersendiri di tengah ketidakpastian global yang sedang terjadi.

"Memang walaupun di tengah tantangan meningkatnya geopolitik maupun ekonomi akhir-akhir ini, tetapi justru kita melihat bahwa ini kesempatan juga selalu terbuka karena Indonesia adalah negara yang diterima oleh semua negara karena sesuai dengan kebijakan foreign policy kita yang terbuka dan non-alignment," jelasnya.

Guna menjaga minat investor global, pemerintah berkomitmen untuk terus menyempurnakan sistem perizinan dan memberikan kepastian regulasi. Langkah ini diambil untuk meminimalkan risiko ketidakpastian bagi pelaku usaha serta memastikan Indonesia tetap menjadi tujuan investasi yang kondusif meski kondisi ekonomi dunia sedang bergejolak.

(Febrina Ratna Iskana)

SHARE