ECONOMICS

Investor Australia Tertarik Masuk Bisnis Hilirisasi Nikel di Indonesia

Rohman Wibowo 02/07/2026 17:53 WIB

BKPM mengungkapkan, Pure Battery Technologies (PBT) berencana membangun fasilitas precursor Cathode Active Material (pCAM) di Indonesia.

BKPM mengungkapkan, Pure Battery Technologies (PBT) berencana membangun fasilitas precursor Cathode Active Material (pCAM) di Indonesia. (Foto: Ist)

IDXChannel - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengungkapkan, perusahaan teknologi pemrosesan material baterai, Pure Battery Technologies (PBT) berencana membangun fasilitas precursor Cathode Active Material (pCAM) di Indonesia. Dengan demikian, perusahaan asal Australia tersebut berpotensi masuk dalam ekosistem hilirisasi nikel nasional.

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu menilai, Indonesia sudah memiliki fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL), sehingga dalam waktu dekat akan memiliki manufaktur sel baterai. 

"Mata rantai yang tersisa adalah pCAM dan katoda. Di sinilah investasi seperti Pure Battery Technologies menjadi krusial untuk melengkapi ekosistem baterai yang terintegrasi penuh," katanya dalam keterangan resmi, Kamis (2/7/2026).

Todatua menyambut baik rencana PBT masuk dalam ekosistem hilirisasi nasional. Apalagi, kedua negara memiliki kerangka Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) yang diharapkan memperkuat hubungan, termasuk di sektor investasi.

Dia menekankan bahwa hilirisasi merupakan inti transformasi ekonomi Indonesia. Pemerintah telah mengidentifikasi 28 komoditas strategis dengan potensi investasi mencapai USD618 miliar hingga tahun 2040. 

"Potensi tersebut diproyeksikan mampu menghasilkan nilai ekspor sebesar USD857 miliar dan menciptakan lebih dari tiga juta lapangan kerja langsung," katanya.

Dalam forum dengan pemerintah dan pebisnis Australia baru-baru ini, Todotua menitikberatkan bahwa kedua negara memiliki ekonomi yang saling melengkapi, didukung oleh kerangka kerja sama IA-CEPA. Indonesia juga terus melakukan reformasi iklim investasi melalui penyederhanaan perizinan, pemberian insentif fiskal dan nonfiskal, serta pengembangan kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus.

"Kami mengundang investor Australia untuk menjadi bagian dari babak baru pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui investasi yang berorientasi pada hilirisasi, infrastruktur, ketahanan pangan, transisi energi, dan ekonomi hijau," imbuhnya.

Selain itu, Todotua juga menekankan pentingnya memperkuat konektivitas logistik kawasan melalui optimalisasi Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II sebagai jalur strategis yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Australia sebagai negara yang tidak jauh dari jalur laut tersebut, digadang-gadang bisa menjadi mitra untuk memafaatkan jalur strategis laut tersebut bagi arus pelayaran global.

"ALKI II merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia melalui Selat Lombok dan Selat Makassar. Pada 2024, koridor ini dilalui perdagangan bijih besi senilai A$138 miliar, batu bara A$91 miliar, dan LNG A$69 miliar. Potensi tersebut menjadi peluang besar bagi Indonesia dan Australia untuk memperkuat rantai pasok, logistik, serta investasi di kawasan," tuturnya.

(Rahmat Fiansyah)  

SHARE