ECONOMICS

Jaga Pasokan untuk MBG, Peternak Diminta Sesuaikan Jadwal Panen Telur dengan Kalender Sekolah

Tangguh Yudha 06/07/2026 16:26 WIB

Sudaryono menilai pola produksi perlu disesuaikan dengan jadwal kegiatan belajar mengajar karena konsumsi dari program MBG sangat dipengaruhi kalender sekolah.

Jaga Pasokan untuk MBG, Peternak Diminta Sesuaikan Jadwal Panen Telur dengan Kalender Sekolah. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono, meminta para peternak ayam dan telur menyesuaikan jadwal panen dengan kalender sekolah guna mengantisipasi tingginya kebutuhan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sudaryono menilai pola produksi perlu disesuaikan dengan jadwal kegiatan belajar mengajar karena konsumsi dari program MBG sangat dipengaruhi kalender sekolah.

“Salah satu rekomendasi dari rapat ini, kita ingin bagaimana peternak kita ini menyesuaikan juga kalendernya itu sama dengan kalender anak sekolah. Karena memang ini ya, MBG ini besar," kata Sudaryono dalam konferensi pers di kantor Kementerian Pertanian (Kementan), Senin (6/7/2026).

Menurutnya, program MBG telah menciptakan sumber permintaan baru yang sangat besar terhadap komoditas ayam dan telur, sehingga menjadi peluang bagi peternak untuk meningkatkan produksi.

"MBG ini punya kebutuhan besar terhadap ayam dan telur, selain kebutuhan yang lain beras, sayur dan lain-lain itu pasti," ujar dia.

Meski demikian, dia tak menampik arahan ini akan menjadi  tantangan baru yang belum pernah dihadapi sebelumnya sehingga seluruh pemangku kepentingan perlu terus melakukan penyesuaian agar pasokan tetap terjaga.

"Ini kondisi baru belum pernah terjadi sebelumnya, dan Insyaallah kita belajar dari kondisi ini sehingga di hari-hari di waktu-waktu yang akan datang kita lebih prima. Itu aja sebetulnya," ujarnya.

Adapun saat ini harga telur di tingkat peternak tengah mengalami penurunan. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, mengatakan turunnya harga telur di tingkat peternak dipicu oleh ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan.

Menurutnya, pasokan telur yang melimpah di tengah melemahnya permintaan menyebabkan harga jatuh di bawah harga pokok produksi (HPP), sehingga mengancam keberlanjutan usaha peternak.

"Dan inilah yang terus kita lakukan upaya-upayanya baik jangka pendek, menengah maupun panjang untuk menjaga keseimbangan suplai dan demand ini sehingga harga di tingkat peternak itu tidak terlalu jauh dari Harga Acuan Penjualan (HAP), tetapi juga tidak lebih rendah dari HPP," kata Agung.

(NIA DEVIYANA)

SHARE