Kala Airlangga Dicecar soal Pembentukan Badan Ekspor dan Pelemahan Rupiah
Airlangga mengatakan, penjelasan resmi terkait arah kebijakan ekonomi tersebut akan terjawab dalam agenda pemerintah di DPR RI pada esok hari.
IDXChannel – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meminta publik dan pelaku pasar untuk bersabar mengenai kepastian pembentukan badan khusus yang akan mengelola ekspor nasional.
Airlangga mengatakan, penjelasan resmi terkait arah kebijakan ekonomi tersebut akan terjawab dalam agenda pemerintah di DPR RI pada esok hari.
Saat dicecar oleh awak media mengenai definisi, urgensi, hingga fungsi spesifik dari badan ekspor tersebut, Airlangga enggan memberikan rincian lebih awal dan memilih mengaitkannya dengan agenda makroekonomi.
"Ya kalau besok kan ada acara di DPR, kita tunggu aja acara di DPR," kata Airlangga saat ditemui di kantornya, Jakarta, Selasa (19/5/2026) sore.
"Kita tunggu besok, besok kan bicaranya mengenai makroekonomi," katanya ketika ditanya mengenai tujuan badan tersebut.
Airlangga memastikan dirinya akan hadir langsung ke Gedung Parlemen. Namun, dia tetap konsisten menutup rapat informasi detail dan hanya memberikan sinyal bahwa pembahasan esok hari akan mencakup konstelasi ekonomi secara luas.
"Saya ke DPR. Kita besok bicara mengenai kondisi ekonomi," ujar dia.
Airlangga juga sempat memicu rasa penasaran wartawan ketika menyebut adanya agenda kementerian lain di bawah koordinasinya yang akan berlangsung esok hari.
"Soalnya pariwisata dibawa Kemenko juga. Besok, besok," kata dia saat awak media bingung mengapa pembahasan melebar dari badan ekspor ke sektor pariwisata.
Selain isu kelembagaan ekspor, Airlangga merespons secara mendalam terkait fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS yang kembali memecahkan rekor terendah di kisaran Rp17.706 per USD pada sore hari ini.
Airlangga juga menepis anggapan bahwa kejatuhan mata uang Garuda ini murni disebabkan oleh sentimen domestik, termasuk efek psikologis pasar pasca-pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai penggunaan dolar di desa.
Menurutnya, ada kombinasi berat antara tekanan eksternal dan siklus tingginya permintaan valas di dalam negeri secara musiman.
"Faktor global juga sangat memengaruhi. Dan seperti yang saya sampaikan, selama bulan ibadah haji ini permintaan terhadap dolar juga tinggi. Terus kedua, sesudah laporan keuangan, pembayaran dividen itu kebanyakan kan juga di bulan-bulan ini," ujar Airlangga.
Siklus tingginya permintaan valas internal tersebut semakin diperberat oleh faktor eksternal, di mana harga komoditas energi global yang masih melonjak ikut membebani struktur pembayaran nasional.
"Jadi memang demand-nya sedang tinggi. Plus harga minyak masih naik, sehingga tentu ini faktor eksternalnya sangat kuat," katanya.
Meski situasi pasar keuangan dan nilai tukar tengah dikepung sentimen negatif yang kuat pada kuartal kedua ini, Airlangga optimistis situasi akan berbalik melandai seiring bergantinya siklus perekonomian.
"Mudah-mudahan semester II-2026 bisa lebih baik lagi," katanya.
(Dhera Arizona)